Penuhi Kebutuhan, PLN Ingin Akuisisi Perusahaan Tambang Batubara

KAMIS, 15 JUNI 2017

JAKARTA — PT PLN (Persero) berkeinginan memenuhi sendiri kebutuhan batubara melalui akuisisi sejumlah perusahaan tambang komoditas tersebut, sehingga lebih menjamin pasokannya dalam jangka panjang.

Dirut PLN Sofyan Basir saat buka puasa dengan wartawan di Jakarta, Kamis mengatakan saat ini porsi batubara dalam bauran energi primer PLN cukup tinggi yakni mencapai 50 persen.

“Artinya, kami memiliki ketergantungan pada batubara, yang cukup besar. Kalau kami bisa mengamankan 25 persen saja kebutuhan batubaranya, maka sudah bagus,” katanya.

Menurut dia, selama ini, PLN tidak berdaya ketika harga batubara mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Padahal, lanjutnya, kenaikan harga batubara juga berdampak pada tarif listrik ke masyarakat.

“Artinya, kalau harga batubara naik, maka berdampak ke tarif yang bisa meningkat,” ujarnya.

Sebaliknya, kalau PLN bisa memenuhi sendiri 25 persen kebituhan batubara, maka tarif listrik juga bisa lebih rendah.

Sofyan juga menambahkan sebenarnya kalau mekanisme kewajiban pasok batubara ke dalam negeri (domestic market obligation/DMO) diterapkan, PLN tidak perlu mengakuisisi perusahaan batubara untuk mengamankan pasokan.

“Tapi, kebijakan DMO itu kan tidak jalan,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, sesuai konstitusi, energi adalah sepenuhnya milik negara dan bukan pengusaha.

“Pengusaha hanya menggali sumber daya alam yang ada. Namun, mengapa kami harus beli dengan harga tinggi. Kalau PLN beli dengan harga murah, maka masyarakat yang akan diuntungkan dengan tarif yang juga murah,” katanya.

Ia mengusulkan penerapan harga batas bawah dan atas pada produk batubara.

“Dengan demikian, pengusaha batubara tidak rugi, saat harga batubara jatuh dan sebaliknya PLN tidak harus beli dengan harga tinggi saat harga batubara naik,” katanya.

Menurut dia, PLN tidak meminta yang berlebihan, hanya mengharapkan keadilaan.

“Kalau kami menambang batubara sendiri, ongkosnya hanya 15 dolar AS per ton, sementara sekarang kami mesti beli dengan harga 60 dolar per ton,” kata Sofyan. [Ant/ME. Bijo Dirajo/Foto: Dok.CDN]
Source: CendanaNews

Lihat juga...