Keluarga Korban Penganiayaan Oknum Kepala Jasa Raharja Tolak Upaya Damai

RABU, 14 JUNI 2017

MAUMERE — Keluarga Fransiskus Alimus, korban penganiayaan oknum kepala kantor Jasa Raharja Maumere, HPM menolak upaya damai dan meminta agar kasus ini diselesaikan melalui jalur hukum.

Fransiskus Aliman korban penganiayaan

Demikian disampaikan Dorty da Rato dan Bernard Ari, keluarga korban kepada awak media di depan ruangan Satuan Reserse dan Kriminal Polres Sikka, Rabu (14/6/2017).

Dikatakan Dorty, kalau membuka ruang untuk damai sepertinya tidak ada, sebab selama hidup keluarganya belum pernah berurusan dengan pihak kepolisian dan baru pertama mengalami kasus yang melibatkan keluarganya dan justru pelakunya seorang pejabat yang sangat memahami hukum.

“Soal mediasi atau jalan damai kami dari keluarga sudah sepakat untuk tidak menempuhnya sebab pelaku adalah orang yang mengerti hukum,” tegasnya.

Seharusnya tambah Dorty, dari awal pelaku bertanya dan membawa anak mereka  ke ketua rukun tetangga untuk diselesaikan dan setelah melakukan perbuatan penganiayaan harusnya pelaku mengantar anak mereka ke rumah sakit untuk diobati.

“Prosesnya kami serahkan saja ke polisi agar pelaku bisa diproses sesuai hukum yang berlaku dan kami datang kesini karena ada panggilan dari kepolisian untuk memberikan keterangan tambahan soal kasus ancaman pembunuhan yang dialami anak kami,” terangnya.

Fransiskus Alimus, korban penganiayaan kepada awak media menjelaskan saat kejadian dirinya sedang mencari rumput untuk makanan kambing dan pelaku datang sambil menanyakan dirinya sedang melakukan apa dan dikatakan sedang memotong rumput untuk makanan kambing.

Dorty da Rato dan Bernard Ari keluarga korban penganiayaan

Pelaku beber Fransiskus, langsung mengambil parang dan memukul bagian belakang punggungnya serta meletakan parang di lehernya lalu ditarik dan kembali memukul bagian punggung belakang seraya meminta dirinya berlutut dan meminta maaf.

“Saat saya berlutut dan meminta maaf, saya ditendang dan terjatuh lalu saya disuruh bangun dan berlutut dan saya meminta maaf lagi sebanyak dua kali namun dia mengancam seraya mengatakan nanti saya bunuh,” paparnya.

Pelaku lanjut Fransiskus, menanyakan tempat tinggalnya dan dikatakan dirinya tinggal di rumah om Yanus lalu dirinya mengajak pelaku ke rumah bertemu om Yanus.

“Saya baru sekali memotong rumput di tempat tersebut dan tidak tahu itu kebun milik pelaku dan saya baru memotong rumput sebanyak segenggam,” sebutnya.

Fransiskus mengakui mendatangi Polres Sikka kembali karena dikatakan akan dimintai keterangan tambahan dan bila senadainya keluarga pelaku minta damai maka harus berurusan dengan keluarganya sebab dirinya tidak bisa memberikan jawaban. [Ebed de Rosary / ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary]
Source: CendanaNews

Lihat juga...