JAKARTA – Jajanan tradisional dinilai bermasalah dalam marketing. Hal itu diungkapkan Wulandari, salah seorang pegiat jajanan tradisional. Komunitas jajanan tradisional yang didirikannya merupakan wadah bagi para pegiat usaha mikro kecil menengah (UMKM) di bidang kuliner. Wulandari mengatakan, jajan tradisional kurang diminati generasi muda karena bermasalah dalam hal pengemasan.
“Selama ini, jajanan tradisional cenderung berat dan membuat kenyang. Sehingga banyak anak muda yang enggan mengonsumsinya,” ujar Wulandari di Jakarta, Selasa.
Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan modifikasi produk jajanan dengan berbagai varian rasa. Namun, dia menegaskan tak ingin menggunakan varian rasa seperti banyak didapatkan pada jajanan luar negeri.
“Modifikasi yang kami lakukan dengan berbasis kearifan lokal. Contohnya kue lumpur yang tak hanya menggunakan kentang, tapi bisa rasa talas, ubi jalar,” papar dia.
Saat ini, komunitas yang dirintisnya sudah menampung sekitar 100 UMKM yang bergerak di jajanan tradisional. Menurut Wulandari, bisnis yang digelutinya tersebut merupakan bisnis sosial yang bisa memberdayakan banyak pengusaha kecil menengah.
“Nanti kami akan membuat aplikasi dan juga situs untuk memasarkan kue tradisional,” demikian Wulandari menjelaskan. Ke depan, ia akan membuat terobosan, menghadirkan toko jajanan di pusat-pusat perbelanjaan. Wulandari menargetkan, jajanan ini bisa hadir di mal menengah hingga atas.
“Kami ingin menyediakan jajanan ini mal menengah ke atas karena masih jarang ditemui,” cetus dia. (Ant)