SABTU, 17 JUNI 2017
LAMPUNG—Sebagian masyarakat di wilayah Pulau Sumatera yang terhubung dengan pulau pulau kecil lain di sekitarnya khususnya di Kabupaten Lampung Selatan masih mengandalkan dermaga sebagai infrastruktur utama.
![]() |
| Parmin (baju biru) mengantarkan sebagian pengguna jasa ojek perahu yang akan berkunjung dari Pulau Sumatera ke Pulau Rimau Balak. |
Salman (38), salah satu pemilik jasa penyewaan perahu menuturkan dirinya dan beberapa pemilik perahu lainnya melayani penyeberangan menggunakan perahu tradisional dengan kapasitas 20 PK. Mereka melayani penyeberangan dari Dermaga Keramat, Dermaga Muara Piluk ke dermaga di Dusun Kampung Berak, Dusun Gubuk Seng di Pulau Rimau Balak, Pulau Pajurit, Pulang Kandnag Lunik dan Pulau Kandang Balak.
Keberadaan perahu motor ojek di dermaga dermaga tersebut menjadi kebutuhan vital untuk mobilitas warga yang akan beraktifitas di darat serta membeli dan menjual hasil bumi. Dermaga yang ada di kawasan itu sederhana terbuat dari kayu dan bambu. Di dermaga inilah sebanyak 7-10 perahu motor khusus untuk ojek selalu siap sedia mengantarkan warga menyeberang antar pulau.
Bagi warga yang akan menyeberang selain menunggu penumpang penuh sebagian pengojek akan bersedia mengantarkan warga meski penumpang hanya satu dua orang dengan rute dari Pulau Sumatera menuju Pulau Rimau Balak dan sekitarnya.
Sejak penyeberangan antar pulau mulai berlangsung menggunakan perahu tradisional ongkos penyeberangan mulai dipatok dari harga Rp10.000 hingga kini dipatok Rp25.000 hingga Rp30.000 sekali jalan menyesuaikan harga bahan bakar minyak jenis solar sebagai bbm kapal motor.
“Awalnya dermaga Muara Piluk yang kini menjadi tempat pelelangan ikan juga merupakan dermaga sederhana lalu menjadi dermaga permanen tapi hanya digunakan untuk perahu perahu nelayan sementara kegiatan perahu penyeberangan masih menggunakan dermaga sederhana ini,” terang Salman saat ditemui Cendana News, Sabtu (17/6/2017).
Setidaknya ada beberapa rute dermaga tradisional yang dilalui oleh Salman serta pemilik ojek perahu lain diantaranya dari dermaga Muara Piluk ke dermaga Keramat menuju ke dermaga Pulau Rimau Balak sesuai dengan permintaan penumpang.
Salman menyebut selain faktor cuaca alur penyeberangan yang berpapasan dengan beberapa kapal besar diantaranya kapal kapal Roll on Roll Off (Roro) dari pelabuhan Penyeberangan Bakauheni ke Merak, hambatan yang kerap dilaluinya dengan adanya kapal jenis landing craft tank (LCT) di Pelabuhan Penyeberangan PT Bandar Bakau Jaya (BBJ).
Keberadaan kapal kapal besar tersebut kerap bersinggungan dengan kapal motor milik warga yang akan menyeberang menggunakan perahu dan kerap menimbulkan ombak yang mengakibatkan perahu oleng meski kewaspadaan ojek perahu menjadi kunci keselamatan saat berlayar apalagi jarak dengan pelabuhan BBJ dan Pelabuhan Bakauheni hanya sekitar 20-30 meter.
Mendukung Agrobisnis
Keberadaan dermaga Muara Piluk diakui Salman juga sangat penting bagi para pelaku agro bisnis yang membeli komoditas pertanian warga di beberapa pulau untuk diangkut ke Pulau Sumatera. Khusus untuk pengangkutan antar dermaga Salman menyebut kerap mengangkut komoditas pertanian jenis kelapa, pisang serta hasil sayur mayur lain termasuk hasil tangkapan nelayan.
![]() |
| Dermaga Muara Piluk penhubung Pulau Sumatera dengan beberapa pulau kecil lain menjadi tempat pendaratan pengangkutan hasil bumi. |
Pengangkutan hasil bumi tersebut menjadi sumber pemasukan bagi jasa ojek miliknya dengan tarif menyesuaikan atau nego antara pemilik hasil pertanian dengan dirinya selaku pemilik ojek perahu dengan tarif mulai dari Rp1000 pertandan atau sistem borongan menyesuaikan jumlah barang yang dimuat dengan tarif Rp250 ribu hingga Rp300 ribu.
“Saat jumlah muatan banyak kami bahkan harus mempergunakan dua perahu motor dengan sistem tarik menarik perahu bagian belakang khusus untuk muatan barang dan bagian depan untuk muatan penumpang,” terang Salman.
Kondisi dermaga di Muara Piluk dan di Pulau Rimau Balak diakui Salman hingga saat ini masih cukup sederhana. Tiang tiang penopang dari semen yang dicor dengan lantai dari kayu sebagian bahkan telah rusak.
Diamini warga lain ia menyebut sudah berkali kali mengusulkan untuk melakukan perbaikan dermaga kepada pemerintah namun keterbatasan anggaran membuat warga masih tetap harus menerima kondisi dermaga yang hingga kini masih cukup memprihatinkan tersebut.
Kondisi dermaga yang masih cukup memrihatinkan tersebut diakuinya tetap menjadi dermaga singgah bagi para wisatawan yang juga menggunakan jasa ojek perahu milik warga.
Parmin, salah satu pengojek wisata asal Pulau Rimau Balak menyebut pada saat akhir pekan ia menyebut permintaan warga untuk melakukan aktivitas penyelaman (diving) serta aktivitas memancing menghubunginya lewat telepon.
Khusus untuk jasa ojek para pemancing melalui dermaga Muara Piluk ke beberapa spot memancing Parmin mematok biaya Rp150 ribu dimulai dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Sementara bagi para pemancing yang memesan perahunya selama seharian dengan spot memancing di beberapa pulau ia memasang tarif Rp300ribu.
Parmin menyebut dengan kondisi dermaga yang terbilang seadanya tersebut ia mengakui warga masih tetap bisa beraktifitas dengan baik dan masih tetap bisa mencari sumber penghasilan dengan menjadi tukang ojek perahu memanfaatkan kunjungan wisatawan yang berkunjung ke beberapa pulau di dekat Pulau Sumatera.
“Sebagian material dermaga berupa kayu sudah sering kita perbaiki tapi karena dimakan usia termasuk terjangan ombak kembali rusak dan ini merupakan dermaga tradisional bukan dermaga komersial seperti pelabuhan penyeberangan sehingga masih swadaya dikelola masyarakat,”terang Parmin.
Lain halnya dengan dermaga Muara Piluk, dermaga Pulau Rimau Balak salah satu dermaga tradisional yang cukup mendapat perhatian sebagai dermaga tradisional penghubung antar pulau di Lampung Selatan diantaranya dermaga Pulau Sebesi.
Terletak di Desa Tejang Pulau Sebesi dermaga tersebut telah mengalami perbaikan bersamaan dengan dermaga Pulau Sebuku yang berada di Teluk Bangkai sebagai dermaga tradisional yang sudah dibangun permanen.
Sobri (45) salah satu tokoh masyarakat di Desa Tejang Pulau Sebesi menyebut pembangunan dermaga Pulau Sebesi mulai sangat penting dilakukan mengingat Pulau Sebesi menjadi pulau transit untuk wisatawan mengunjungi destinasi wisata Kepulauan Krakatau.
“Sebagian wisatawan setidaknya melewati beberapa dermaga untuk sampai ke Pulau Krakatau mulai dari Merak, Bakauheni dermaga di Canti, dermaga Pulau Sebesi dan mendarat di Pulau Krakatau,”terang Sobri.
Selain vital digunakan untuk mobilitas wisatawan, keberadaan dermaga di Pulau Sebesi yang dihuni ratusan kepala keluarga tersebut juga menjadi penghasil kakao, kelapa serta hasil laut tersebut telah membantu peningkatan sektor perekonomian.
Sebab sebelumnya dermaga Pulau Sebesi hanya merupakan dermaga sederhana terbuat dari papan kayu selanjutnya mulai dibangun untuk memudahkan sandarnya kapal kapal wisata yang akan melakukan aktivitas di Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Umang Umang dan Pulau Krakatau.
Diminati Wisatawan
Keberadaan dermaga tersebut diakuinya selain membantu warga juga memberi sumber penghasilan bagi para pemilik perahu yang menyediakan jasa penyeberangan wisatawan. Sistem tarif yang berlaku dari Dermaga Canti ke Dermaga Pulau Sebesi sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 atau sistem carteran mulai dari Rp500ribu hingga Rp700ribu.
Pemilik perahu masih bisa mendapatkan penghasilan dengan aktivitas wisatawan yang banyak mengunjungi kepulauan Krakatau saat libur panjang. Selain mengharapkan aktivitas wisatawan keberadaan dermaga sebagai infrastruktur penting bagi masyarakat antar pulau khususnya menjelang hari raya Idul Fitri.
Pada momen ini boleh dibilang keberadaan perahu sewaan ini sangat penting untuk menghubungkan warga yang akan melakukan silaturahmi warga kepulauan dengan warga di Pulau Sumatera.
![]() |
| Salman tengah mengecat perahu miliknya semberi menunggu pelanggan ojek perahu motor miliknya di dermaga Muara Piluk. |
Jurnalis: Henk Widi/Redaktur: Irvan Sjafari/ Foto: Henk Widi
Source: CendanaNews


