SELASA, 4 APRIL 2017
LAMPUNG — Menjelang perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan umat Hindu di Desa Sumbernadi, Desa Sumur, Desa Sripendowo, serta beberapa desa yang mayoritas berpenduduk pemeluk agama Hindu di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, mulai melakukan persiapan.
![]() |
| I Gde Sukarte, warga Desa Sumbernadi, menyiapkan tempat sesaji setelah selesai membuat penjor. |
Menurut salah satu warga Desa Sumbernadi, I Gde Sukarte (37), persiapan oleh umat Hindu dilakukan dengan melakukan pembersihan rumah,menyiapkan berbagai keperluan upacara serta membuat penjor dengan bambu dan janur kuning. I Gde Sukarte menyebut, proses pembuatan penjor dikerjakan sebagian masyarakat umat Hindu sejak dua hari lalu dan sebagian mulai dikerjakan pada Selasa (4/4/2017) sebab perayaan Hari Suci Galungan akan dilakukan pada Rabu (5/4/2017), esok hari.
Sebagian warga diakuinya mulai berbelanja bahan keperluan untuk membuat penjor di antaranya kertas warna serta berbagai keperluan pembuatan penjor yang umumnya dikerjakan kaum laki-laki. Sementara kaum perempuan membereskan rumah dan menyiapkan bahan makanan untuk pelaksanaan Hari Suci Galungan yang merupakan simbol hari kemenangan setelah melakukan proses catur brata penyepian atau Hari Raya Nyepi 1 Saka 1939.
Khusus di Desa Sumbernadi yang ratusan kepala keluarganya memeluk agama Hindu, I Gde Sukarte menyebut, pembuatan penjor rata-rata dilakukan secara bergotong-royong melibatkan kerabat dan rumah terdekat. Penjor yang dipasang hampir di sepanjang jalan tepat di depan rumah dan pura mencapai 3 kilometer. Penjor dari bambu dan janur yang dihias dengan berbagai kertas warna-warni tersebut menyimbolkan naga yang selalu ada di setiap perayaan Hari Suci Galungan umat Hindu.
“Bagi warga yang masih sempat membuat penjor, hari ini selagi masih ada kesempatan langsung membuat. Sementara ada yang sudah membuat dua hari lalu agar bisa mengerjakan pekerjaan lain sebelum merayakan Galungan,” ungkap I Gde Sukarte, sembari membuat sebuah tempat untuk menaruh sesaji saat ditemui Cendana News di depan rumahnya, Selasa (4/4/2017).
![]() |
| Warga sibuk siapkan penjor. |
Sebagian bahan yang dibelinya untuk pembuatan penjor, diakuinya, berupa kertas hias untuk hiasan (sampian) dan bagian lain. Sementara bahan bambu dan janur yang dipergunakan untuk penjor diperolehnya dari kebun miliknya di belakang rumah. Ia mengaku, membutuhkan biaya sekitar Rp100 ribu untuk proses pembuatan penjor dan bisa berkurang jika sebagian bahan bisa disediakan oleh pembuat penjor seperti dirinya. Dibuat selama satu hari penjor setinggi 12 meter didirikan di depan rumah dengan cara bergotong royong.
Sementara, warga lain di Desa Sumbernadi, Wayan Subawe (34) menuturkan, membuat penjor sejak sore sebelumnya dan pada pagi hari sudah bisa didirikan bersama dengan kerabat yang tinggal di sekitar rumah. Sebagian warga diakuinya telah selesai membuat penjor dan bersiap untuk melangsungkan upacara menjelang Hari Suci Galungan yang akan dilakukan di Pura Segara yang juga sebagai Pura Pusekh atau pura desa setempat.
“Saat sore semua penjor harus terpasang lalu membersihkan rumah dan halaman juga sudah beres karena saat sore nanti kami harus segera melakukan persembahyangan,” ungkap Wayan Subawe.
Wayan Subawe menuturkan, hari suci atau Hari Raya Galungan bagi umat Hindu merupakan simbol hari kemenangan antara Dharma atau kebaikan melawan keangkara-murkaan yang disebut Adharma. Puncak kemenangan ini nantinya diakhiri sebagai wujud syukur, yaitu di Hari Kuningan atau 10 hari setelah Galungan.
![]() |
| Wayan Subawe dan kerabatnya mendirikan penjor di depan rumah dan pura jelang Hari Suci Galungan. |
Wayan Subawe menyebut, esok hari Rabu (5/4/2017) seluruh umat Hindu akan melakukan sembahyang keluarga di pura masing-masing selanjutnya melakukan silaturahmi antar warga dengan saling berkunjung ke rumah tetangga, kerabat, dan keluarga. Silaturahmi tersebut menyimbolkan rasa persaudaraan dan juga kebahagiaan setelah menjalankan ritual Nyepi pada beberapa hari sebelum Hari Suci Galungan. Hidangan serta berbagai macam kue khas Bali dan minuman juga disajikan untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

