Camat Bakauheni Segera Sampaikan Keluhan Warga Terdampak JTTS

SELASA, 4 APRIL 2017

LAMPUNG — Kondisi jalan penuh lumpur saat hujan di sepanjang jalan masyarakat di Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, Desa Kelawi, dan sepanjang Jalan Lintas Sumatera mulai dikeluhkan warga. Pasalnya, material timbunan lahan proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di STA 00+825 berupa tanah merah sebagian mengakibatkan debu dan jalanan berlumpur akibat drainase yang belum tertata dengan baik di sekitar JTTS serta debu beterbangan saat kondisi panas.

Alat berat melakukan proses pengerjaan JTTS di Desa Bakauheni, sebagian material tanah memasuki jalan warga dan becek saat hujan.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu warga Dusun Kenyayan, Andi (34), yang menyebut hujan turun dalam beberapa pekan terakhir berakibat material tanah tol mengganggu aktivitas warga yang akan melakukan aktivitas sehari-hari.

Andi menyebut, saat kondisi hujan akses jalan yang digunakan masyarakat dipenuhi dengan lumpur dan tanah material tol. Sementara saat kondisi panas debu kendaraan proyek JTTS beterbangan. Meski kerap disiram, terutama saat kendaraan truk pengangkut material tanah timbunan tol melintas, namun jalan justru menjadi licin dan membahayakan pengguna kendaraan. Andi bahkan telah menyampaikan keluhan terkait kondisi tersebut ke aparat dusun, aparat desa, untuk proses pembuatan drainase yang baik sebab tidak adanya drainase berimbas material tanah tol menimbun jalan warga.

“Sebelum ada proyek Jalan Tol Trans Sumatera akses jalan kami yang sebagian terbuat dari aspal bersih tapi sekarang justru dipenuhi dengan lumpur karena saat hujan material tol terbawa ke jalan bersama aliran air,” terang Andi, warga Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (4/4/2017).

Proses pengerjaan proyek JTTS di Bakauheni.

Andi bersama warga lain bahkan bersiap melayangkan protes ke pelaksana tol, meski ia mengakui masih tetap berkoordinasi dengan aparat desa setempat dan menyampaikan ke pihak kecamatan untuk memperhatikan nasib warga. Selain tidak adanya saluran drainase yang ada di jalan lingkungan yang bersentuhan langsung dengan jalan tol, aktivitas pembangunan jalan tol mengakibatkan warga ikut terganggu dalam hal kesehatan dengan adanya debu yang beterbangan dan rumah yang selalu terkena debu akibat proses pengangkutan material JTTS.

Hal yang sama diakui oleh Kepala Dusun Kubang Gajah, Seto Suhadi (40), akibat material proses pembangunan JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar, sebagian warganya mengeluhkan akses air bersih yang ada di sungai Kubang Gajah. Tiga dusun bahkan dipastikan tidak bisa lagi mengakses air bersih dari sungai setempat karena air berubah menjadi kuning kecoklatan, berlumpur dan tertimbun longsoran pasir selama proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera. Tuntutan kompensasi warga setempat yang telah disampaikan hampir selama dua tahun akhirnya bisa dipenuhi oleh pelaksana proyek JTTS dengan memberikan bantuan sumur bor.

“Kita awalnya selalu protes dan akhirnya bisa ditanggapi oleh pelaksana proyek JTTS dengan membuatkan sumur bor dan diharapkan warga bisa menggunakan air bersih dari sumur bor karena sungainya sudah sangat kotor,” ungkap Seto Suhadi, Kepala Dusun Kubang Gajah.

Warga berkumpul di dekat saluran air yang menjadi aliran air dari proyek pengerjaan JTTS.

Bantuan sumur bor tersebut diakuinya hanya sebagian kompensasi bagi warga karena saat ini Desa Kelawi yang berada di bawah proyek JTTS masih tetap menerima material tanah tol yang terbawa arus air. Beberapa ruas jalan yang masih dipenuhi dengan lumpur dampak dari drainase yang masih belum tertata di antaranya di dekat masjid Desa Kelawi yang selalu tergenang air dan lumpur tanah merah. Akibatnya, kendaraan yang melintas harus melewati kubangan penuh air dan membuat warga sebagian harus memacu pelan-pelan kendaraannya saat melintas. Seto Suhadi dan warga sekitar berharap ada perhatian dari pelaksana proyek JTTS untuk meminimalisir longsoran material tol tersebut agar tidak mengganggu aktivitas warga.

Berbagai keluhan yang kembali muncul dampak dari pembangunan proyek JTTS di titik Kecamatan Bakauheni diakui oleh Camat Kecamatan Bakauheni, Zaidan SE. Ia mengaku, berbagai keluhan baik lisan maupun tulisan telah diterimanya dari masyarakat melalui aparat desa. Sebagian mengeluhkan tentang banyaknya material timbunan tanah tol yang mengganggu aktivitas warga. Mendengar keluhan tersebut Zaidan bahkan mengaku telah melakukan pengecekan ke lapangan dan membenarkan di beberapa titik lumpur, material tanah tol hasil dari timbunan mengganggu aktivitas warga.

Seto Suhadi, Kepala Dusun Kubang Gajah mulai membangun fasilitas air besih akibat proyek JTTS yang membuat sungai tak lagi bisa digunakan.

Zaidan menyebutkan, beberapa titik tersebut ada di Desa Kelawi, Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, arah pintu masuk Pelabuhan Bakauheni dan di beberapa ruas Jalan Lintas Sumatera KM 1-4 yang masih menjadi perlintasan kendaraan pengangkut material JTTS. Ia bahkan mengaku, telah berkoordinasi dengan pelaksana proyek JTTS dengan melakukan proses penyiraman saat berdebu dan membersihkan material tanah tol yang tercecer di jalan.

“Saya sudah cek dan sebagian kerikil, tanah yang ada di jalan mengganggu kendaraan. Sementara lumpur dan tanah yang terbawa air karena drainasenya kurang baik. Ini akan kita usulkan agar dibuatkan drainase karena warga sangat dirugikan,” terang Zaidan.

Zaidan, Camat Kecamatan Bakauheni.

Ia bahkan menyebut, sebagian warganya tidak menolak atau menghambat adanya proyek pengerjaan JTTS tersebut, namun perhatian kepada warga yang secara langsung terdampak juga harus diperhatikan. Zaidan  mengaku akan memastikan kembali agar pelaksana JTTS bisa membuatkan akses drainase yang baik di beberapa titik terutama saat proyek JTTS di wilayah tersebut akan selesai. Sebab, seperti sebelumnya, ia menyebut, meski warga mengeluhkan kondisi akses air bersih namun baru bisa dipenuhi dalam waktu yang lama hingga beberapa bagian proyek JTTS selesai dikerjakan. Pembuatan drainase yang ada di beberapa titik di Kecamatan Bakauheni pun diharapkan akan dipenuhi oleh pelaksana JTTS untuk kenyamanan warga terdampak proyek tersebut.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...