SELASA, 4 APRIL 2017
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Beralih dari suatu hal yang sudah ditekuni menjadi ujian berat tersendiri bagi Rise Rianti (33), warga Saniangbaka Kecamatan X, Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Terbiasa bekerja sebagai buruh heler (tempat penggilingan padi) di Batusangkar, cukup menyulitkan baginya saat balik ke kampung halaman.
| Rise Susanti. |
Terbiasa bekerja dan mendapatkan uang setiap minggu terasa berbeda. Namun hal tersebut tidak membuatnya untuk patah semangat dalam menjalani hidup bersama suami tercinta dan buah hatinya.
Dimulai lima tahun yang lalu, ia mulai menekuni usaha kue kering yang dibuat sendiri secara tradisional. Berbekal ilmu yang didapatkan dari masa muda, ia mulai berkarya di dapur dengan harapan hasil buatannya diterima masyarakat.
“Tanggapan pembeli cukup bagus,” sebut Rise saat berbincang dengan Tim Cendana News di pertemuan Posdaya Saniangbaka, beberapa waktu lalu.
Melihat potensi, Rise mulai menitipkan barang dagangannya di beberapa warung. Dari 30 hingga 40 bungkus yang dijual, dalam waktu tiga hari habis terjual. Dari hasil jualan tersebut Rise kembali membeli bahan untuk membuat lagi.
“Jadi ada jeda, karena saya harus menunggu hasil penjualan baru dapat memproduksi lagi,” sebutnya.
Karena butuh modal, ia mencoba meminjam kepada koperasi setempat. Namun, karena bunganya cukup tinggi, membuatnya kesulitan dalam membayar angsuran.
“Laba lebih banyak buat bayar angsuran,” kenangnya.
Hal inilah yang mengantarkannya pada Posdaya Saniangbaka. Untuk melancarkan usaha, ia memerlukan bantuan modal. Berbekal fotocopy kartu keluarga dan KTP suami-istri, ia mendapatkan pinjaman awal Rp2 juta dari Tabur Puja Posdaya Saniangbaka di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerjasama dengan Yayasan Damandiri.
“Pinjaman awal saya Rp2 juta, karena termasuk kelompok yang dinilai bagus, pada pinjaman kedua saya dapatkan Rp3,5 juta dan di pinjaman ketiga dapat Rp4 juta,” sebutnya.
Dari modal tersebut, perlahan-lahan usahanya bisa menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari biasanya hanya dapat memproduksi lagi setelah menerima uang penjualan, saat ini ia sudah dapat mempunyai stok bahan baku pembuatan.
“Tidak harus menunggu hasil penjualan, jadi stok di warung pun tidak putus,” sebutnya.
Dari usahanya tersebut, ia dapat menghasilkan pemasukan dalam tiga hari rata-rata Rp200 ribu. Ditambah dengan pembeli yang langsung datang ke rumah untuk membeli kue kering yang biasanya digunakan untuk oleh-oleh.
“Selain di warung, alhamdulillah saya dapat pemasukan rata-rata Rp50 ribu di rumah,” sebutnya.
Dari hasil penjualan tersebut, ia sudah dapat membantu suami dalam perekonomian keluarga. Selain itu ia juga dapat membantu pembiayaan sekolah anak, mulai dari biaya sekolah, baju dan perlengkapan belajar.
| Kesibukan Asisten Kredit Tabur Puja dan Pengurus Posdaya Saniangbaka di hari kas. |
“Alhamdulillah, berkat pinjaman Tabur Puja usaha saya sudah berkembang,” tutupnya dengan senyum ramah.
Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: Tabur Puja Solok