Tarif Penyeberangan ke Wure Selama Semana Santa Tetap Normal

JUMAT, 14 APRIL 2017

LARANTUKA  — Tarif penyeberangan kapal motor tradisional yang mengangkut penumpang atau peziarah ke Wure pulau Adonara tetap seperti hari biasanya meski selama seminggu jumlah penumpang melonjak drastis.

Para peziarah yang turun dari kapal motor di pantai berpasir putih samping dermaga Wure

Agustinus Demon Wurung, kapten kapal motor mengatakan, meski di hari raya dan jumlah penumpang melonjak namun kapal-kapal motor penyeberangan dilarang menaikan tarif sehingga tetap 10 ribu rupiah sekali menyeberang ke Wure.

“Harga sama seperti hari biasanya dan kami dilarang menaikan harga sebab semua kapal sudah terdaftar dan ditegaskan untuk tidak menaikan tarif,” ujarnya kepada Cendana News di dermaga Pante Palo Kamis (13/4/2017).

Kapal motor yang beroperasi selama Semana Santa berjumlah 28 kapal dan waktu beroperasi tetap sama, sejak pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA kecuali ada yang mencarter.

“Kalau ada peziarah yang mencarter harganya tergantung kesepakatan antara nahkoda kapal dan peziarah dan biasanya paling mahal 200 ribu rupiah pulang pergi,” ungkapnya.

Sekali berlayar beber Tinus kapalnya bisa mengangkut maksimal 15 orang tapi terkadang 10 orang juga langsung berlayar dan tergantung kepada banyaknya peziarah yang akan menyeberang.

“Semua kapal memakai sistem antri sehingga semua mendapatkan jadwal yang sama dan hari ini saya berlayar pulang pergi sebanyak 8 kali sama dengan kapal lainnya,” terangnya.

Sementara itu pada hari Jumat (14/4/2017) kapal motor hanya diperbolehkan berlayar menuju dermaga Tana Mera saja sebelum Wure sebab dermaga di Wure ditutup sehingga peziarah akan turun di Tana Merah dan menumpang ojek sepeda motor ke Wure.

“Kalau ke Tana Mera kami mengutip tarif 5 ribu rupiah setiap orangnya dan biasanya hanya sampai jam 12 siang saja sebab ada prosesi laut dari kapela Tuan Meninu ke Pante Kuce kelurahan Pohon Sirih,” paparnya.

Agsutinus Demon Wurung nahkoda kapal motor tradisional yang mengangkut peziarah

Meski jumlah penumpang meningkat dibandingkan hari biasa, Tinus mengaku hanya mengantongi untung tidak seberapa sekitar 300 sampai 500 ribu rupiah selama Semana Santa sebab harus membeli bahan bakar sebanyak 8 liter sehari.

Dirinya mengakui, jumlah penumpang selama Semana Santa dari tahun ke tahun tetap banyak meskipun jumlah peziarah ke Wure pulau Adonara tahun 2017 ini lebih sedikit dibandingkan jumlah peziarah di tahun 2016 kemarin.

Lusia Haryanti salah seorang peziarah asal Yogyakarta yang ditemui Cendana News di Pante Palo usai menyeberang dari Wure mengaku sangat terkesan dengan suasana di kapela Tuan Berdiri di Wure dan menikmati perjalanan.

Dirinya mengakui memang awalnya sangat takut apalagi jarang sekali menaiki kapal motor penyeberangan apalagi dengan ukuran yang sangat kecil namun suasana laut yang tenang dan banyaknya kapal yang hilir mudik membuat dirinya merasa nyaman dan menikmati suasana pelayaran.

“Awalnya sempat takut apalagi arus lautnya sangat deras seperti di sungai saja dan kapal seperti terlihat terbawa arus tapi pemandangan dan suasana selama perjalanan sangat mengasyikan,” tuturnya.

Bagi Lusia, pengalaman ke Wure bukan saja sekedar ziarah iman namun dengan menumpang kapal tradisional dan banyaknya kapal yang hilir mudik dan terbawa arus merupakan pengalaman baru dan sangat berkesan apalagi tarif juga sangat murah.

“Kapal-kapal  motornya juga sangat bersih, pelayanannya juga sangat bagus dan yang membuat menarik kapal-kapalnya dicat berwarna-warni dan semuanya memakai bendera berwarna hitam sebagai penanda kapal tersebut mengangkut peziarah,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Source: CendanaNews

Lihat juga...