Bupati Flotim: Pemerintah Tidak akan Intervensi Tradisi Semana Santa

JUMAT, 14 APRIL 2017

LARANTUKA — Pemerintah kabupaten Flores Timur (Flotim) tidak akan melakukan intervensi tradisi Semana Santa yang selama lebih dari lima abad telah berlangsung di kota Larantuka, Wure dan Konga tapi mendukung tradisi ini agar tetap berjalan dan dilestarikan.

Peziarah yang sedang melakukan ritual Cium Tuan di kapela Tuan Ma

Demikian disampaikan penjabat  bupati Flores Timur, Emanuel Kara, SH saat ditemui Cendana News di rumah jabatan bupati Kamis (13/4/2017) malam. Dikatakannya, pemerintah tidak pernah menjaga jarak dengan pihak gereja dan kerajaan Larantuka.

“Pemerintah membentuk panitia Semana Santa dan gereja juga sama, kita berkolaborasi tetapi pemerintah tidak pernah masuk ke dalam tradisi Semana Santa sebab itu ranahnya Raja Larantuka bersama suku-sukunya,” tegasnya.

Eman menambahkan, pemerintah, gereja dan pihak kerajaan semua dengan perannya masing-masing dan pihaknya hanya bermain di belakang layar untuk menjaga agar peziarah merasa aman dan nyaman.

Pemerintah juga, tandas mantan kepala BKD NTT ini, tidak pernah menjual iman untuk kepentingan turisme tapi bagaimana mengelola peristiwa iman ini untuk menjadi sebuah event pariwisata sehingga tradisi ini tetap lestari.

“Kalau bicara iman, iman tentu berkaitan dengan pribadi dan pemerintah tidak pernah masuk ke dalam ranah itu tapi kalau adanyabanyak peziarah tradisi dijadikan akan kehilangan maknanya berarti iman kita masih dangkal,” tuturnya.

Kalau ada yang mengatakan segala ritual ini akhirnya kehilangan esensi dan hura-hura lanjut Eman, semua pemangku kepentingan  harus koreksi diri, siapa yang menciptakan suasana itu.

 “Pemerintah juga berniat membuat Perda tapi tidak pernah mau membuat sebuah badan sebab dengan adanya Perda maka protapnya menjadi jelas sehingga permintaan alokasi anggaran setiap tahunnya jelas,” terangnya.

Penjabat bupati Flores timur Emanuel Kara,SH

Sementara untuk Flores Timur dengan Semana Santanya tidak dapat menyerupai Bali seperti saat hari raya Nyepi, Eman katakan, di Bali agama identik dengan budaya mereka dan merupakan satu kesatuan dan sesungguhnya agama itu ada dalam budaya bukan budaya ada dalam agama.

Sehingga sesungguhnya tandasnya, saat Tri Hari Suci atau Hari Bae maka kendaraan-kendaraan tidak boleh masuk kota Larantuka dan kita menciptakan suasana sepi dan memberi contoh yang baik sehingga peziarah tidak mungkin melakukan apa yang diluar yang kita lakukan.

“Kesakralan,suasana khusuk, aman dan nyaman tergantung kepada kita untuk menciptakan suasana itu bukan tergantung kepada peziarah dan bila kita mampu melakukan itu maka ini menjadi sebuah patokan bagi peziarah untuk mentaatinya,” paparnya.

Sebelumnya, Bernadus Tukan, budayawan dan sejarawan Flores Timur kepada Cendana News,  Kamis (13/4/2017) mengatakan, semua pihak harus  memahami apa pandangan tradisional, apa tuntutan modern atau pandangan otentik ajaran gereja dan bagaimana melakukan tindakan ke depannya demi perbaikan.

“Orang Nagi kalau kita masukan pemikiran yang baik mereka pasti mengikuti, sebab saat ritual Serah Punto Dama atau menyerahkan lilin sebagai simbol menyerahkan tangung jawab dari Mardomu lama ke yang baru saat  itu terjadi evaluasi kegiatan tradisi selama setahun,” ungkapnya.

Mantan guru ini sepakat harus ada forum para pelaku tradisi dan  bisa saja difasilitasi oleh pemerintah atau gereja tapi pemerintah belakangan saja dan gereja yang harus mengambil inisiatif sebab pemerintah itu garis komando, dia akan melaksanakan perintah dari atas.

Semua pemangku kepentingan pinta pak Dus, harus duduk bersama melaksanakan  semuanya itu, pemerintah hanya memfasilitasinya dan jangan dominan. Hanya terkadang kita tidak bisa menempatkan diri, kapan kita bicara sebagai anak kampung, pelaku devosi, umat gereja dan kapan sebagai bupati atau pejabat pemerintah.

“Harus dibentuk forum yang mempertemukan gereja dan pelaku tradisi yang selalu memurnikan tradisi termasuk menolak hal- hal yang dianjurkan pemerintah dan tidak sesuai tradisi,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Source: CendanaNews

Lihat juga...