Mengolah Limbah Kayu menjadi Suvenir Unik

JUMAT, 14 APRIL 2017

BALIKPAPAN — Beberapa tahun silam, Kalimantan Timur dikenal sebagai provinsi penghasil kayu terbesar di Indonesia. Dua jenis kayu yang menjadi andalan ekspor daerah ini adalah Kayu Ulin, Bangkirai dan Meranti. Namun seiring berjalannya waktu, pemerintah melarang seluruh kegiatan penebangan pohon.

Dedi

Masyarakat yang dahulu menggantungkan hidupnya dari industri perkayuan, mulai beralih mata pencaharian. Salah satunya adalah menjadi perajin suvenir.

Seperti yang dilakukan Dedi (50) dan teman-temannya. Warga Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara ini, mengumpulkan sisa-sisa kayu bekas menjadi kerajinan bernilai.

Berbekal gergaji, bor, palu, pensil, dan peralatan sederhana lainnya, Dedi mampu membuat ukiran dan barang bernilai eknomi. “Saya lihat banyak sisa kayu yang tidak terpakai, jadi saya manfaatkan,” kata Dedi, Jumat (14/4/2017).

Di sekitar bengkel kerjanya terlihat bonggol pohon Ulin, sisa potongan Bangkirai, batok kelapa, maupun batang pohon Sungkai yang siap dikerjakan. Bahan bekas ini bisa dibuat keranjang bayi, gantungan kunci, anyaman, tempat pensil, gelang, dan banyak lagi. Proses pembuatan barang kerajinan cukup sederhana.

Pembuatan gantungan kunci misalnya, Dedi dan teman-temannya hanya membutuhkan waktu beberapa menit, setelah bahan dipotong. Kepingan batang pohon Sungkai yang telah dipotong, dihaluskan, kemudian diwarnai dan terakhir direndam resin atau diolesi pernis. Barang-barang tersebut dijual dengan harga mulai Rp10 ribu hingga ratusan ribu.

Untuk memasarkan kerajinannya, Dedi  mengaku tak kesulitan. Ia telah bekerjasama dengan pengelola kawasan konservasi enklosur Beruang Madu. Di tempat tersebut, hasil kerajinan Dedi dipasarkan bersama suvenir lainnya. Target pembelinya adalah wisatawan yang berkunjung di tempat wisata pendidikan itu.

Gantungan kunci cocok menjadi oleh-oleh.

Meski suvenir yang dijual tak jauh berbeda dengan daerah lain, seorang pengunjung enklosur Beruang  Madu mengaku tertarik. “Suvenir yang dijual umumnya memang gantungan kunci, gelang atau anyaman. Cuma motif yang beda,” kata Leni Maryana (26).

Jurnalis: Ferry Cahyanti / Editor: Satmoko / Foto: Ferry Cahyanti

Source: CendanaNews

Lihat juga...