Lewat “Sandeq” Mahasiswa Mandar Mengungkapkan Kegelisahan Para Nelayan

SELASA, 4 APRIL 2017

MAKASSAR  —- Dunia Maritim  dan benturan antara modernisasi yang kerap mengabaikan kearifan lokal menjadi salah satu tema   pertunjukkan Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) ke 8 yang digelar di Universitas Negeri Makassar.  Sejak Kementerian Kelautan dan Perikanan dijabat Susi Pudjiastuti, kemaritiman dan pemberdayaan nelayan jadi salah satu isu hangat.

Adegan dalam Sandeq.

Universitas Al Asyariah dari Mandar Baru, Sulawesi Barat mempersembahkan pertunjukkan teater bertajuk Sandeq pada Selasa (4/4/2017).  Sandeq adalah perahu tradional khas nelayan Mandar, perahu bercadik dengan lebar  0,5 – 1,5 meter dan panjang 5 – 15  meter. Ukurannya ramping dan mudah dibawa ke darat.

Persoalannya keberadaan motor boat dan pembuatan tanggul mengancam eksistensi dari Sandeq.   Tim teater yang disutradarai Rahmawati mendekor panggung menjadi sebuah perkampungan nelayan dengan apik.

Diceritakan di sebuah perkampungan di Mandar, dibangun sebuah tanggul yang memancing pro dan kontra dari penduduk.  Yang tidak setuju bersedih  khawatir perahu sandeq ini punah.  Kekhawatiran itu terbukti dengan adanya badai  yang merusak perahu.  Nelayan tidak bisa menyelamatkan perahu karena tidak bisa dibawa ke darat karena ada tanggul.

Kepiawaian tim Rahmawati, sang sutradara  tampak pada adegan yang menggambarkan ketika perahu sandeq dihantam badai dan membuat sandeq hancur.

Rahmawati mengaku sudah mempersiapkan para pemain-sekalipun dengan bongkar pasang-sejak Juli 2016.  Drama Teater Sandeq dimainkan oleh 16 orang yang berperan sebagai nelayan, warga, pungga dan seorang nenek.

Tokoh nenek merupakan simbol orang yang dituakan, tetapi juga sekaligus menyuarakan kearifan lokal.  Sayangnya penggunaan bahasa daerah yang terlalu berlebihan menjadikan penonton yang bukan orang Mandar akan sulit menangkap pesan cerita. Tetapi dari segi tema pertunjukan berdurasi satu jam dari tim dari Universitas Al Syariah itu patut mendapatkan apresiasi.

Rahmawati seusai pertunjukkan mengaku memilih Sandeq karena menjadi isu lokal di sana. Pemerintah di Mandar membangun tanggul yang membatasi darat dan pantai. Padahal kebijakan itu  mengancam eksistensi Sandeq.  Seharusnya pemerintah di Mandar cukup membangun pemecah ombak kalau niatnya mencecah abrasi.

“Untuk memerankan Sandeq para pemain kami karantina di kampus.,” kata mahasiswi jurusan Matematika  yang pernah menjadi sutradara untuk ajang festival se Sulawesi Barat.

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Lihat juga...