SABTU, 25 MARET 2017
SLAWI — Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, banyak menyimpan peninggalan situs bersejarah. Mulai situs purba Semedo dan Sejarah Islam. Salah satu situs sejarah Islam ada di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuh Waru, Kabupaten Tegal, berupa makam Ki Ageng Anggawana dan Pangeran Purbaya.
![]() |
| Makam Pangeran Purbaya |
Menurut KH Maktub Effendi, Ki Ageng Anggawana merupakan tokoh di balik berdirinya Kota Tegal, dan yang memimpin Tegal sepeninggal ayahnya, Ki Gede Sebayu, sejak 1620 hingga 1625. Pangeran Purbaya adalah putra Raja Mataram yang memperistri putrid dari Ki Gede Sebayu, yaitu Raden Rara Giyanti Subhaleksana.
Sementara itu salah seorang keturunan Ki Ageng Anggawana, Fathur Rahman, SH., mengatakan, Ki Ageng Anggawana dan Pangeran Purbaya merupakan tokoh-tokoh pendiri Kabupaten Tegal, yang selalu diperingati haulnya karena jasanya yang begitu besar.
Di samping Makam Ki Ageng Anggawana, terdapat masjid wali atau masjid kesepuhan yang menjadi pusat peribadatan masyarakat sekitar atau para peziarah. Setiap malam Jumat Kliwon, makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, bahkan saat fenomena politik sudah terjadi, banyak tokoh-tokoh daerah, Bupati atau Calon Bupati, calon DPR, berziarah mengunjungi kedua makam ini, seolah menandakan meminta restu dari sesepuh Tegal. Beberapa orang juga kerap dijumpai menginap untuk melakukan ritual keagamaan demi terkabulnya hajat mereka.
Namun demikian, Fathur mengatakan, selama ini peran Pemerintah Daerah hanya membantu perawatan makam dan belum ada upaya pengembangan. Ia berharap, ada perhatian lebih dari berbagai pihak untuk mengembangkan dan melestarikan warisan bersejarah tersebut. Pasalnya, keberadaan makam dan masjid wali itu masih bisa dikembangkan fungsinya. Bukan saja sebagai situs wisata religi, tapi juga menjadi pusat pengembangan ekonomi umat dan keilmuan, sehingga menjadi contoh pusat perdaban baru.
![]() |
| Fathur Rahman |
Fathur mengatakan, salah satu upaya pengembangan bisa dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang masih sangat luas, dibangun kantor sebagai perpustakaan umat, dan juga pusat informasi dan konsultasi bisnis, sehingga segala kebutuhan keumatan bisa difokuskan di tempat tersebut.
Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto
