Titiek Soeharto Luncurkan Desa Damandiri Lestari

RABU 1 MARET 2017

YOGYAKARTA—Tingginya kesenjangan sosial di Indonesia saat ini menjadi problem nasional yang harus diminimalisir sejak dini. Bertepatan dengan peluncuran Maret sebagai bulan Jendral Besar H.M Soeharto, Titiek Soeharto selaku Putri ke-4 dari Presiden RI ke 2 ini  merasa terpanggil untuk turut serta melakukan perubahan agar mampu mengentaskan kemiskinan.

Titiek Soeharto menerima cendera mata dari Lurah Desa Trirenggo.

Berbagai gerakan serta program yang tengah dijalankan sejumlah Yayasan yang didirikan Soeharto sangat terasa keberadaannya. Salah satunya turut serta membantu mengentaskan kemiskinan melalui pencanangan Desa Damandiri Lestari.

“Melalui Yayasan Damandiri tidak sedikit keluarga miskin yang telah memperoleh bantuan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Ke depan, kami akan terus melanjutkan komitmen guna mengentaskan sebagian rakyat yang masih di bawah garis kemiskinan,” ucap Wakil Ketua Komisi IV DPR RI di sela peluncuran Desa Damandiri Lestari, di Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu sore (1/3/2017).

Melalui Desa Damandiri Lestari, anggota DPR/MPR RI bertekad membangun desa yang mampu meningkatkan kesejahteraan serta menjadikan  masyarakat yang mandiri, sesuai  dengan apa yang dicita-citakan para pendahulu bangsa. Komitmen ini akan ditunjukkan dengan membangun 16 Desa Damandiri Lestari selama 2017.

“Saya, sebagai wakil dari keluarga besar Pak Harto merasa gembira dan bangga melihat gerak-langkah yang dilakukan oleh Yayasan-yayasan tersebut. Mudah-mudahan dimasa depan yang akan datang kami akan dapat membangun lebih banyak lagi,” tekan dia.

Melalui momentum Maret sebagai bulan Pak Harto, Titiek ingin mengingatkan kembali masyarakat akan langkah-langkah yang diambil oleh H.M Soerharto  dalam sederet kejadian sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Dalam pencanangan bulan Maret sebagai bulan Jendral Besar H.M Soeharto, ditegaskan pihak keluarga tidak ingin ada yang mengkultuskan individu Soeharto.

“Sama sekali tidak! Kami melakukan hal ini, dengan tujuan agar kita semua, khususnya kaum muda Indonesia, tertarik untuk mengkaji kembali dan mendalami hal-hal yang mendorong Pak Harto selalu konsisten berjuang bagi bangsa dan negaranya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” tandasnya.

Ditambahkan, adanya kegaduhan politik saat ini tak lain disebabkan banyak yang telah meninggalkan sistem politik dan ketatanegaraan yang sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa Indonesia. Lunturnya nilai-nilai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Sistem ketatanegaraan yang tertuang di UUD 1945, menjadikan gaya politik saat ini lebih bersumber pada falsafah dan budaya asing.

Di sisi lain, Titiek Soeharto juga mengingatkan apabila bangsa Indonesia tidak berhasil membenahi kegaduhan dan kekalutan politik yang terjadi saat ini, tantatangan di masa depan akan semakin besar. Tak hanya itu, di bidang ekonomi, Indonesia juga sedang menghadapi masalah yang besar  karena mengadopsi sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

“Ini jelas berbeda  dengan masa yang lalu, di mana sebagian besar barang-barang kebutuhan, seperti sandang, pangan dan papan dapat kita hasilkan sendiri. Maka dewasa ini tidak sedikit barang-barang tersebut yang kita datangkan dari luar negeri. Sampai-sampai sebagian dari kebutuhan akan garam dan cabe-pun harus kita impor. Selain itu, kekayaan bumi pertiwi yang melimpah yang berupa bahan tambang, untuk sebagian besar dikuasai oleh bangsa asing.  Pada bidang-bidang yang lain pun saat ini kita terlalu tergantung pada bangsa lain,” paparnya.

Melalui Maret sebagai Bulan Pak Harto, Titiek Soeharto mengajak terutama kalangan muda Indonesia dan generasi penerus bangsa, untuk meneladani etos patriotik para pendahulu. Salah satunya untuk tetap konsisten berjuang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, seperti yang telah diperjuangan  H.M Soeharto  selama ini.

“Tentu, sebagai manusia, para pendahulu kita juga memiliki kekurangan, kelemahan dan bahkan kesalahan dan kekeliruan. Oleh sebab itu, dalam meneladani sifat-sifat dan semangat juang para pendahulu kita, hendaknya kita dapat selalu memilah dan memilih. Yang baik dan relevan bagi kehidupan kita, kita ambil dan sebaliknya yang kurang baik serta tidak sesuai lagi dengan keadaan jaman kita tinggalkan,” pungkas Titiek Soeharto.

Titiek Soeharto bersama warga desa penerima bantuan.

Jurnalis: Harun Alrosid/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid

Lihat juga...