SELASA, 28 MARET 2017
YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Guna mengembangkan usaha milik warga, Posdaya Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul, secara rutin menggulirkan dana pinjaman lunak melalui Simpan Pinjam Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja). Meski masih dalam skala kecil, bantuan pinjaman ini secara riil mampu menggerakkan perekonomian warga Dusun Ngijo.
![]() |
| Aktivitas warga Dusun Ngijo saat berjualan |
Bendahara Posdaya Ngijo, Rita Yuliatmi, mengatakan, dengan adanya simpan pinjam Tabur Puja yang dirintis sejak 2012, itu sejumlah warga yang semula tak memiliki usaha, menjadi bisa membuka usaha kecil-kecilan seperti berjualan dan memperoleh pendapatan tambahan. Adapun dana simpan pinjam atau dana bergulir tersebut berasal dari bantuan dana hibah Yayasan Damandiri, sebesar Rp15 juta.
Dana hibah tersebut sebagian digunakan untuk pemberdayaan warga secara langsung di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan maupun ekonomi. Sementara sisanya sebesar Rp8 juta disimpan untuk simpan pinjam usaha kecil. Dana Rp8 juta itu digulirkan dalam bentuk pinjaman lunak kepada warga yang akan mendirikan usaha. “Setiap warga dapat meminjam dana maksimal Rp500 ribu dengan besaran bunga 1 persen. Bunga yang diperoleh nantinya akan digunakan sebagai tambahan modal dana bergulir, sehingga semakin lama semakin bertambah,” katanya, saat ditemui, belum lama ini.
Hingga kini, tercatat ada sebanyak 205 pinjaman bergulir. Setiap warga yang meminjam dapat mengangsur dana pinjaman tersebut hingga 10 kali dengan besaran pengembalian Rp55 ribu sekali angsuran. Sejak dimulai pada 2012, lalu, saat ini modal dana Simpan Pinjam Tabur Puja Posdaya Ngijo meningkat menjadi sebesar Rp13 juta. “Simpan pinjam ini memang belum berbentuk koperasi. Masih pra koperasi. Karena belum ada kelembagaannya. Pelayanannya juga hanya berupa pinjaman saja. Untuk simpanan saat ini masih belum,” katanya.
![]() |
| Rita Yuliatmi |
Menurut Rita, pengurus Simpan Pinjam Tabur Puja Posdaya Ngijo juga masih dipegang oleh salah satu orang pengurus Posdaya. Mekanisme peminjamannya dengan cara mengajukan pinjaman ke pengurus tersebut. Bila disetujui, pengurus akan melapor ke pihak Posdaya. Baru kemudian uang pinjaman dapat dicairkan. “Jadi, pengurus simpan pinjam itu hanya mengurus pencatatan dan administrasi saja. Pencairan dana pinjaman tetap berada di pengurus Posdaya,” jelas Rita.
Sebagai kegiatan simpan pinjam khusus untuk pengembangan usaha, warga peminjam dana ini pun dibatasi. Hanya warga yang hendak mendirikan usaha atau yang telah memiliki usaha saja yang dapat meminjam dana ini. Mereka dapat meminjam dana hingga berkali-kali, dengan catatan pinjaman sebelumnya telah lunas atau selesai. “Kalau masih kurang cicilan tiga kali, harus dilunasi dulu, baru bisa meminjam lagi,” katanya.
Warga peminjam Tabur Puja Posdaya Ngijo, mayoritas merupakan warga yang memiliki usaha mikro. Mereka tersebar di semua RT yang ada di Dusun Ngijo. Pertemuan antar pengurus Posdaya dan Simpan Pinjam Tabur Puja dengan warga peminjam dilakukan rutin setiap sebulan sekali. Ini untuk menghindari adanya keterlambatan pembayaran angsuran oleh warga yang meminjam dana tersebut. “Alhamdulillah, selama ini selalu lancar. Tidak ada satupun warga yang macet dalam mengangsur cicilan. Malah tak sedikit warga yang mencicil hanya 5 kali dari seharusnya 10 kali, sehingga jangka waktu pinjaman menjadi lebih singkat dan lebih cepat bergulir,” katanya.
Menurut Rita, setelah adanya Simpan Pinjam Tabur Puja, warga khususnya ibu-ibu rumah tangga semakin banyak yang tergerak untuk memulai usaha. Meski masih dalam skala mikro, seperti berjualan peyek, gethuk, tape, warung lotek, angkringan, dan sebagainya. “Setiap pagi, apalagi saat ada kegiatan pertemuan atau senam, banyak sekali warga yang berjualan aneka makanan. Itu perubahan yang nyata terlihat. Dulu, hal semacam itu tidak ada,” kata Rita.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana
