RABU, 15 MARET 2017
PADANG — Fenomena equinox akan melintasi wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Menurut Kepala Stasiun Koordinator BMKG Sumbar, Rahmat Triyono, dalam fenomena itu, matahari mulai kontak dengan garis khatulistiwa pada Senin (20/3/2017) mulai pukul 10.51 WIB, dan meninggalkan garis khatulistiwa pada Selasa (21/3/2017) pukul 16:39 WIB.
![]() |
| Kepala Stasiun Koordinator BMKG Sumatera Barat, Rahmat Triyono. |
Bagi wilayah Sumbar, kata Rahmat, salah satu fenomena astronomi tersebut, matahari melintasi garis khatulistiwa yang secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yakni 21 Maret dan 23 September. Bahkan, fenomena ini juga telah menjadi agenda tahunan dan dapat meningkatkan pariwisata di Sumbar, khususnya dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Pasaman.
“Ini juga sudah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Pasaman. Telah dirayakan pada 2016 lalu secara langsung melalui Stasiun Geofisika Padang Panjang yang melakukan pengamatan sinar matahari menggunakan alat yang disebut camble stock,” jelas Rahmat, ketika dihubungi dari Padang, Rabu (15/3/2017).
Ia menyebutkan, perayaan fenomena equinox tersebut telah menjadi salah satu ikon pariwisata di Sumbar yang diadakan tiap tahun. Biasanya, perayaan ini dilakukan pada Maret, namun karena pada Maret dan April merupakan puncak musim hujan sehingga untuk 2017 akan diadakan pada September. Saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif sama, termasuk pada wilayah subtropis di bagian utara maupun selatan.
Menurut Rahmat, keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, seperti diketahui rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia di kisaran 32-36 derajat celcius. Namun, equinox bukan merupakan fenomena seperti heatwave yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.
“Pada 2017, fenomena ini terjadi pada 20-21 Maret dan 23 September 2017. Melintasi beberapa provinsi di wilayah Indonesia mulai dari Ternate, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat dan berakhir di Pulau Telo, Sumatera Utara. Di wilayah Sumatera Barat, fenomena ini akan melintasi tiga kabupaten, yakni Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten Pasaman Barat,” ungkapnya.
Menurut Rahmat pula, fenomena equinox ini salah satu dampak yang kerap kali muncul adalah terjadinya peningkatan suhu udara, sehingga meningkatnya suhu udara tersebut menyebabkan peningkatan penguapan. Menyikapi hal ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang belakangan.
“Jadi, secara umum, kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab atau basah. Apalagi, beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa periode transisi dan pancaroba. Maka, ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan,” pungkasnya.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa