SELASA, 21 MARET 2017
MATARAM — Perkembangan sastra di NTB telah mengalami kemajuan cukup menggembirakan, dengan lahirnya sejumlah penulis dan sastrawan muda di NTB. Tapi dukungan dari pemerintah Provinsi hingga Kabupaten Kota tentang sastra masih sangat minim dan jauh dari harapan, baik dari sisi kebijakan maupun anggaran.
![]() |
| Muhammad Safwan. |
“Kalau bicara dukungan pemerintah, khususnya dari sisi kebijakan, bukan tidak ada, sebenarnya sudah ada, tapi dalam implementasinya masih jauh dari harapan,” kata Sastrawan dan penulis buku “Rembulan di Langit Ampenan”, Muhammad Safwan di Mataram, Selasa (21/3/2017).
Ia mencontohkan misalkan terkait wacana kebijakan Pemerintah Kota Mataram yang hendak mewajibkan siswa termasuk guru membaca karya sastra, tapi dalam perjalanannya, wacana tersebut tetap saja sebatas wacana, tanpa ada implementasinya.
Termasuk di setiap Kabupaten Kota lain, melalui visi misi yang dilaksanakan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ada diatur soal pengembangan sastra, tapi dalam kenyataannya, minim implementasi.
“Padahal dengan membaca dan belajar sastra, banyak sekali manfaatnya bagi anak, antara lain melatih berfikir analitis, mengasah kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.”
Dengan demikian, kata Safwan, fungsi otak kanan dan otak kiri anak menjadi seimbang, karena tidak hanya dicekoki pelajaran berhitung
Ketidak seriusan pemerintah mendukung kemajuan sastra di NTB juga bisa terlihat pada peringatan hari puisi sedunia sekarang ini, tidak kegiatan yang diselenggarakan berkenaan dengan momentum hari puisi sedunia.
“Momentum hari puisi sedunia, seharusnya dimeriahkan dengan mengadakan lomba baca puisi, memberikan beasiswa dan penghargaan terhadap pelaku seni dan tokoh sastrawan sebagai bentuk perhatian dan penghargaan,” katanya.
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi