JUMAT, 24 MARET 2017
LAMPUNG — Penyakit TB Paru atau Tuberkulosis Paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi momok menakuktkan bagi masyarakat dan terus ditekan penyebarannya dengan berbagai program pencegahan, penanggulangan yang dilakukan oleh dinas kesehatan, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta para kader.
![]() |
| Masitoh,SKM pelaksana dan pemegang TB Paru Puskesmas Penengahan |
Masitoh, SKM selaku pemegang program TB Paru Puskesmas rawat inap Kecamatan Penengahan mendampingi Kepala Puskesmas Penengahan Herwin, SKM menyebutkan, sepanjang tahun 2016 pengelola program TB Paru menargetkan penemuan kasus baru suspect TB Paru selama satu tahun, 608 orang, sementara hasil cakupan yang dicapai 135 orang dan dihitung per tiga bulan atau triwulan. Selain itu penderita TB paru yang menjalani rontgen sebanyak 19 orang dan dugaan TB Paru dengan bakteri tahan asam (BTA) positif mencapai 29 orang.
“Kita lakukan pendataan melibatkan para pelaksana program di Puskesmas dan juga sekitar puluhan kader di tingkat desa ditambah kader TB ‘Aisyiyah yang menjadi relawan dalam kegiatan penanggulangan penyakit TB Paru,” ungkap Masitoh, SKM di ruangannya kepada Cendana News, Jumat (24/3/2017).
Kemudian dari keseluruhan strategi penyuluhan tentang TB Paru yang optimal ia mengungkapkan terlihat adalah penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak atau batuk, mengajak terduga untuk berobat ke Puskesmas dan pengobatan dengan paduan obat anti tuberculosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO).
Jaminan tersedianya OAT secara teratur, menyeluruh dan tepat waktu dengan mutu terjamin dan sistem pencatatan, pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program TB paru.
Masitoh juga menekankan pentingnya peranan pengawas menelan obat (PMO) yang biasanya ditunjuk dari keluarga terdekat penderita TB paru, sebab kunci kesuksesan kesembuhan penderita TB paru sangat bergantung pada PMO. Masitoh menyebut kendala penderita yang enggan meminum obat akibat tak ada pengawasan membuat pasien lebih lama sembuh.
“Kita selalu sosialisasikan kepada PMO agar memiliki kepedulian terutama kepada penderita yang rata-rata anggota keluarga agar aktif dalam proses penyembuhan penderita TB,” ungkapnya.
![]() |
| Masitoh aktif dalam kegiatan Senam kesehatan jasmani sekaligus upaya pencegahan TB |
Beberapa penderita TB Paru yang telah sembuh ungkap Masitoh sangat dipengaruhi oleh keaktifan PMO. Meski demikian ia mengungkapkan tak dapat dipungkiri ada PMO yang takut tertular penyakit TB Paru saat mendampingi penderita. Meski saat ini hanya ditemukan sebanyak 1 penderita TB Paru akibat tertular dan merupakan anak balita yang tertular orangtuanya meski saat ini telah menjalani proses pengobatan dan rontqen.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
