RABU, 8 MARET 2017
SEMARANG — Ruangan berdiameter 3 x 3 meter seringkali terlihat berantakan karena banyak kertas berserakan di sekitar komputer. Tak lama kemudian dua orang lelaki mulai mencoret-coret lembaran naskah yang bertumpuk, tangan mereka pun beralih memegang mouse dengan pandangan menghadap monitor. Sesekali mengucek mata karena terlihat lelah menahan radiasi.
![]() |
| Founder Papillon Studio, Robi Alfa bersama Tokoh ciptaanya Mada |
Alfa Robi dan Hanri tetap bersemangat melanjutkan karyanya karena ingin dunia tahu bahwa komik Indonesia bisa tetap eksis dari gempuran komik Jepang dan Amerika yang membanjiri negeri ini. Mereka mengirim pesan bahwa komikus Indonesia mempunyai segudang kreatifitas untuk membuat karya yang bermutu.
Founder sekaligus art desain, Alfa Robi menjelaskan perjuangannya kepada Cendana News (7/3/2017) bahwa Papilon Studio pada awalnya terbentuk karena sering menjadi tempat berkumpul komikus kota Semarang. Merasa ingin mengembangkan bakatnya, mereka akhirnya mencoba mengontrak ruko di Sendangmulyo.
Pertama kali membuat komik seringkali tidak laku di pasaran. Mereka mencoba untuk mengadaptasi komik Jepang dan Amerika sebagai referensi yang diakulturasikan dengan kearifan lokal, metode tersebut akhirnya bisa membawa komik mereka diterima di pasar. Setelah itu Papilon studio mulai mengerjakan komik dengan tema fiksi, drama, superhero dan horor.
“Rasanya senang sekali waktu tahun 2002 untuk pertama kalinya komik kami di ACC oleh penerbit, judulnya Boneka Kematian,” kenang Robi.
![]() |
| Direktur Papillon Studio, Handri sedang mengerjakan komik |
Saat ini pangsa pasar memang masih dikuasai komik luar negeri, tetapi dirinya tetap optimis mampu bersaing dengan mereka. Hal ini dikarenakan saat ini banyak platform dan media yang bisa dijadikan tempat untuk menerbitkan komik. Apalagi ada banyak kelebihan komik lokal, isinya yang sangat Local Content sehingga bisa disesuaikan dengan perkembangan mental anak Indonesia untuk lebih mengenal kearifan lokal.
Menurut Robi, melihat kualitas komik Indonesia pada dasarnya mempunyai alur cerita bagus, tetapi masih terkendala pemasaran domestik sehingga banyak orang yang tidak tahu.
“Dalam satu minggu saya bisa menyelesaikan satu episode komik sebanyak duapuluh lembar,” imbuhnya.
Sementara itu Direktur Papilon Studio, Handri menambahkan, dari hasil membuat komik, dalam sebulan bisa mengantongi omset hingga 40 juta karena banyaknya momentum yang menggunakan media komik sebagai sarananya. Permintaan dari perusahaan untuk membuat iklan, mulai menjamurnya film animasi buatan anak negeri juga ikut mendongkrak perkembangan komikus, apalagi sekarang banyak juga politikus yang sering memakai komik dalam setiap kampanyenya.
“Alur komik yang lebih banyak menggunakan gambar mempermudah orang untuk menangkap maknanya,” terang Handri.
Karena alur ceritanya yang bervariatif serta desain gambar yang bagus, saat ini komik Monsuno dan Max Steel karya Papilon studio sudah tersebar di mancanegara seperti Amerika, Australia, Hongkong sampai Yunani. Menurutnya pangsa luar negeri bisa memberikan penghargaan yang lebih tinggi dibandingkan pasar lokal karena profesi komikus mempunyai nilai prestise tersendiri dalam masyarakat. Untuk setiap pembuatan Komik hingga selesai, dirinya bisa mematok tarif sampai Rp 1.500 dollar AS tergantung dari tingkat kerumitan dan detail gambar.
“Ketika komik kami dipesan di luar negeri sekaligus kami bisa memperkenalkan budaya Indonesia,” tukasnya.
Handri sendiri mengaku belajar komik secara otodidak, awalnya dari nongkrong dengan komikus akhirnya dia tertarik untuk belajar sendiri. Ia memberikan saran bagi yang ingin belajar komik harus mempunyai rasa percaya diri untuk tetap memegang teguh nilai-nilai ke Indonesiaan sebagai ciri khas yang bisa membedakan hasil karya para komikus lokal dengan luar negeri.
“Walaupun kita memakai referensi dari komik luar negeri, usahakan ketika membuat komik, pakailah citarasa Indonesia karena kebudayaan kita sangat beraneka ragam,”tambahnya.
![]() |
| Deretan komik karya Pappilon Studio yang beredar di mancanegara |
Walaupun bisa berusaha sendiri, tetapi Handri mewakili komikus lainnya tetap mengharapkan pemerintah untuk lebih memperhatikan kretifitas para komikus, sebab saat ini event yang bisa mewadahi mereka hanayalah hari industri nasional saja, belum ada kegiatan khusus untuk seni komik.
Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

