Mengenal Buah Alpukat Sipit Asia dari Kelawi

MINGGU, 12 MARET 2017

LAMPUNG — Berada di ujung Pulau Sumatra di tepi laut, membuat Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, memiliki potensi kekayaan alam yang cukup tinggi, baik dalam bentuk potensi wisata alam seperti Pantai Batu Alif, perbukitan serta perkebunan buah pisang, kelapa, dan yang paling dikenal adalah potensi buah alpukat (persea americana mill).

Alpukat Sipit Asia

Kepala Dusun Kayu Tabu, Samsul Maarif, saat ditemui Minggu (12/3/2017), mengungkapkan, masyarakat Dusun Kayu Tabu mengembangkan jenis alpukat sipit asia dengan ciri khas buah berbentuk oval dan nyaris tanpa biji. Sejarah perkebunan alpukat di Dusun Kayu Tabu itu, berawal ketika pada 1973, Mbah Hartowo (alm) dan Mbah Harjo (alm), warga asal Jakarta dan Yogyakarta, membawa bibit alpukat dari Pulau Jawa dan dikembangkan di Dusun Kayu Tabu sebagai tanaman depan rumah, yang kemudian berkembang menjadi tanaman perkebunan. ”Jadi, awal mulanya ditanam di depan rumah atau saat itu kamp pekerja, lalu mulai menyebar ke penduduk sekitar dan dikenal sebagai sentra pembudidaya alpukat terbesar di Lampung Selatan,”ungkap Samsul.

Samsul juga menyebut, kondisi tanah dan kontur tanah di Dusun Kayu Tabu yang terletak di ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut, memiliki kandungan ziolit yang berdasar penelitian berasal dari material Gunung Krakatau, yang meletus pada 1883. Hal tersebut bahkan telah diteliti oleh ahli geologi asal Jepang  bernama Profesor Hargianto, yang menyebut kandungan zeolit memang cocok untuk tanaman alpukat. Profesor Hargianto melakukan penelitian tentang dampak ledakan Gunung Krakatau dan penelitian di wilayah Dusun Kayu Tabu pada sekitar 2008. Jenis alpukat di wilayah Dusun Kayu Tabu, bahkan diketahui memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh alpukat dari daerah lain.

Potensi perkebunan alpukat yang merupakan buah kaya gizi dan kaya manfaat tersebut, dibenarkan pula oleh salah-satu pekebun sekaligus peneliti tanaman alpukat sekaligus pelaku bisnis agro, Syahbana Abdul Rohman (36). Suami dari Enti Lasmiati (37) ini setiap hari mengirim buah alpukat ke sejumlah gerai komoditas buah di wilayah Jawa, khususnya untuk pasar premium dengan jumlah kiriman mencapai 4 ton per minggu.

Syahbana dan pohon alpukatnya

Syahbana menyebut, saat ini jumlah tanaman alpukat di wilayah Dusun Kayu Tabu mencapai  5.860 batang, dengan luas lahan 800 hektar lebih, tersebar di beberapa kebun warga pembudidaya alpukat yang menggunakan sistem tumpang sari. Dengan 157 Kepala Keluarga (KK), rata-rata warga Dusun Kayu Tabu memiliki di atas 50 batang dan ditanam dengan pola Multy Purpose Tree System (MPTS), atau oleh masyarakat dikenal dengan sistem tumpang sari.

Berbeda dengan jenis buah alpukat di tempat lain yang dominan jenis alpukat miki, alpukat mentega dengan biji, alpukat dari Dusun Kayu Tabu memiliki jenis alpukat yang dikenal dengan nama alpukat sipit asia.

Syahbana mengatakan, awal-mula penamaan tersebut bermula saat ia menjual alpukat tersebut ke penjual besar di Palembang, bernama Mr. Sopian, warga asal China yang tertarik dengan jenis alpukat tanpa biji yang disebutnya dengan jenis Sipit Asia, karena bentuknya yang saat dibelah menyerupai mata sipit, karena bijinya cenderung kepet dan tidak memiliki biji. “Sejak itu, buah alpukat tanpa biji asal Dusun Kayu Tabu dikenal dengan alpukat sipit asia, dan mulai mendapat permintaan dari sejumlah pasar premium, terutama sejumlah pasar buah dan supermarket,” ungkap Syahbana.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...