MINGGU, 12 MARET 2017
JAKARTA — Supersemar diterbitkan Presiden Soekarno pada 1966, agar rakyat Indonesia terhindar dari bahaya komunisme yang sudah beberapa kali merenggut nyawa rakyat Indonesia. Pada 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI), bahkan melakukan percobaan kudeta dengan membunuh 7 perwira TNI Angkatan Darat.
| Titiek Soeharto |
Atas dasar itulah, Presiden Soekarno menerbitkan Supersemar untuk diemban oleh Mayjen TNI Soeharto, agar rakyat terhindar dari malapetaka. Sekarang, dalam momentum peringatan Supersemar, 11 Maret 2017, Titiek Soeharto berdiri di hadapan jutaan rakyat Indonesia yang memadati Masjid At-Tin, menggemakan semangat baru Supersemar untuk membawa rakyat Indonesia, terhindar dari malapetaka selanjutnya.
Dalam pidatonya, Titiek Soeharto menginginkan terciptanya kedamaian dan kestabilan di negara ini, sehingga bangsa ini bisa membangun demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Melihat ke belakang, Supersemar adalah tonggak sejarah dimulainya pemerintahan Orde baru di bawah kepemimpinan Presiden HM Soeharto. Dan, tonggak sejarah itulah awal pembangunan Indonesia di bawah pimpinan Pak Harto untuk menjadi bangsa yang sejahtera.
“Membawa bangsa Indonesia menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila merupakan cita-cita Pak Harto, sehingga selama 32 tahun pemerintahannya, beliau mencurahkan segala tenaga, waktu dan pikirannya untuk mencapai tujuan tersebut,” jelas Titiek dalam pidatonya.
Kunci awal pembangunan yang dilakukan Pak Harto, lanjut Titiek, adalah menjaga stabilitas negara demi menumbuhkan perekonomian, untuk sepenuhnya kesejahteraan rakyat secara merata. Fokus Pak Harto sebagai Presiden kala itu adalah pembangunan sektor pertanian, infrastruktur dan kesehatan rakyat.
Hasil pembangunan Indonesia bersama Pak Harto, diakui lembaga-lembaga Internasional milik Perserikatan Bangsa Bangsa. Pada 1986, FAO memberikan penghargaan kepada Indonesia melalui Pak Harto sebagai kepala negara yang berhasil melakukan swasembada beras.
Berlanjut pada 1989, Pak Harto mewakili Indonesia untuk menerima penghargaan PBB berupa Population Award, karena program Keluarga Berencana (KB) berhasil dijalankan Pemerintah Indonesia, dalam menekan pertambahan jumlah penduduk secara signifikan.
Dengan bekal keberhasilan pembangunan itulah, Pak Harto terus bersemangat mempersiapkan Indonesia menuju era Tinggal Landas, era ketika masyarakat Indonesia maju dan mandiri.
Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw