MINGGU, 12 MARET 2017
SEMARANG — Kian terbukanya arus informasi dengan hadirnya jejaring sosial media, berdampak positif bagi perkembangan musik Indonesia. Penggagas Loenpia Jazz Semarang, Katrina Hadriani, mengatakan, Hari Musik Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Maret, merupakan pengingat pencapaian prestasi musisi Indonesia. Meski sebenarnya ia pun mengakui, musisi sebenarnya tidak terlalu ‘ngeh’ dengan Hari Musik Nasional akan berpengaruh besar, karena bagi mereka bermusik bisa dilakukan setiap hari.
![]() |
| Suasana Pergelaran Loenpia Jazz (Dok: Pribadi) |
Saat ditemui pekan ini, dara berusia 26 tahun tersebut mengatakan pula, perkembangan musik di Indonesia berkembang semakin dinamis. Hal ini dikarenakan banyaknya aliran jenis musik baru hasil dari hybrid aliran yang berbeda, seperti Jazz dengan musik tradisional, sehingga kedua aliran musik tersebut akan sama-sama bisa berkembang pesat. “Jazz sendiri adalah musik yang terpola dengan jumlah pattern, tetapi bentuk improvisasinya bebas dan fleksibel, sehingga bisa digabung dengan alat musik tradisional,” jelas Katrina.
Sementara itu, Ucrit dari Band Etnic Suara Nusantara (SN), menjelaskan, metode hybrid genre Jazz dengan musik tradisional merupakan salah-satu cara untuk tetap melestarikan kebudayaan lokal. Sebab, anak muda biasanya cenderung tertarik dengan aransemen baru, karena nadanya yang lebih fresh. Hal inilah yang sering dilakukan oleh SN, yang pada setiap pementasannya kerap meng-hybrid lagu ‘Gundul-gundul Pacul dan ‘lir-ilir’ ke dalam musik Jazz.
![]() |
| Katrina Hadriani |
Saat ditanya tentang Pergelaran Loenpia Jazz, Katrina mengaku mempunyai mimpi besar untuk membawa festival tersebut sejajar dengan pergelaran Jazz di kota lain. Karena itu, setiap tahun ia sebagai salah-satu panitia, selalu memindah tempat penyelenggaraannya.
Pertama kali pada 2012 dan 2013, digelar di kota lama sebagai bangunan peninggalan Belanda. Pada 2014, digelar di Pecinan yang kental dengan etnis Tionghoa, sementara pada 2015, Loempia Jazz diselenggarakan di Taman Wisata Maerokoco dan terakhir di GOR Jatidiri yang sering dipakai untuk pertandingan sepakbola. “Selain untuk mengembangkan Jazz, Festival Loenpia Jazz juga digelar untuk memperkenalkan tempat-tempat bersejarah di Kota Semarang,” tambahnya.
Walaupun masih seumur jagung, tetapi Katrina mengaku tidak main-main dengan ambisinya, karena itu dalam setiap pergelarannya pasti dirancang dengan serius. Tak tanggung-tanggung, pada Loenpia Jazz terakhir pada 2016, ada sekitar 200 lebih musisi dilibatkan dalam acara dengan tagline “Ngejazz Sik Ben Ora Edan” (Ngejazz dulu biar tidak gila) tersebut.
Acara yang berlangsung satu hari itu, bahkan mengundang musisi papan atas seperti Dewa Budjana, Fariz RM dan The Groove, agar suasana lebih menggelegar. Sementara, untuk Band Jazz pendukung antara lain Komunitas Jazz Rompok Bolong Malang, Fussion Jazz Community Surabaya, Komunitas Jazz kemayoran, Jazz Mben Senen Jogja, Etawa Jazz Jogja, Oemah Musik Idang Rasjidi serta masih banyak lagi. “Musisi papan atas mendukung penuh terhadap pementasan Loenpia Jazz. Mereka juga senang bisa tampil dalam perhelatan akbar di Semarang,” tukas gadis kelahiran Kota Batik Pekalongan tersebut.
Selain itu, Loenpia Jazz 2016 juga mengkampanyekan tentang kesadaran menjaga lingkungan hidup. Karena itu, panitia menyediakan empat panggung sebagai tempat pementasan, yaitu Stage Recycle, Stage Reuse, Stage Reduce, dan Stage Dream Town.
![]() |
| Agung Bagus Amiyanto, salah satu founder Loenpia Jazz |
Agar performance band yang pentas lebih maksimal, Katrina juga membuka open recruitment kepanitiaan secara terbuka untuk mengurusi teknis penyelenggaraan. Walaupun tidak dibayar, ternyata animo masyarakat untuk bisa ambil bagian dalam perhelatan cukup tinggi. Seringkali yang mendaftar sebagai panitia membludak, sehingga ia terpaksa melakukan sistem seleksi. Ini membuktikan bahwa musik Jazz sudah mulai membumi dan bisa diterima di semua lapisan masyarakat.
Sementara itu, salah-satu Founder Loenpia Jazz, Agung Bagus Amiyanto, mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Kota dalam penyelenggaraan festival tersebut. Apalagi, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, sering turun langsung untuk membimbing.
Pengalaman dari penyelenggaran tahun lalu, Drummer Band Jazz Rencang tersebut berharap untuk pergelaran Loempia Jazz 2017 akan lebih semarak. “Kerja keras dari panitia dan dukungan penuh dari Pemerintah menjadikan Loempia Jazz pada 2016, seperti data yang dipunyai Kemenparkraf, jumlah pengunjungnya mencapai 17.000,” terang Bagus.
Lebih lanjut, Bagus mengatakan, Walikota merespon positif dengan festival Loempia Jazz, karena jumlah wisatawan meningkat. Karena itu, di Loempia Jazz 2017 yang rencana press conference-nya diadakan bulan ini, ia akan mengusahakan lebih banyak mengundang musisi nasional maupun band Jazz pendukung.
![]() |
| Arief Maulana (Ucrit) dari Suara Nusantara |
Sementara disinggung tentang harapan ke depan, Katrina berharap, Loenpia Jazz akan selamanya menjadi ikon Kota Semarang. Karena itu, ia akan berusaha untuk menanamkan kepada setiap masyarakat luas, bahwa Loenpia Jazz bukan lagi “acara yang saya tonton”, tetapi “sudah menjadi acara punya saya”.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin


