SABTU, 18 MARET 2017
BANJARMASIN — Rumah Anno 1925 di kawasan Menara Pandang, Sungai Martapura, Jalan Pierre Tendean, Kota Banjarmasin, berubah riuh ketika hari beranjak siang pada Sabtu, 18 Maret 2017. Di lantai dua rumah bersejarah ini, puluhan perajin kain sasirangan meriung membahas aneka topik industri kreatif berbasis sasirangan. Mereka saling bertukar gagasan untuk menggencarkan pamor kain sasirangan ke pentas dunia.
![]() |
| Kain Sasirangan |
Sebanyak 53 perajin kain sasirangan binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Banjarmasin hadir di Rumah Anno 1925. Ajang diskusi ini dalam rangkaian Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2017 yang baru pertama kali dihelat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perajin pun nampak antusias menyimak aneka isu dan tantangan yang mengemuka di tengah diskusi. “Perajin sasirangan harus berbenah dari dalam dulu, dan harus bersama-sama mengenalkan kain sasirangan. Saya percaya, kain sasirangan ini punya posisi tawar luarbiasa di pentas nasional dan dunia,” kata Walikota Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, di hadapan perajin sasirangan, Sabtu (18/3/2017).
Menurut Ibnu, setiap perajin dan pelaku industri sasirangan punyak hak dan kewajiaban yang sama untuk mengenalkan kain asli Banjar itu ke kancah dunia dan Kementerian Perindustrian telah menawarkan sarana promosi lewat pameran tunggal sasirangan. Khusus di Kota Banjarmasin, Ibu mengaku telah menandatangani peraturan walikota yang mewajibkan pegawai swasta dan aparatur sipil negara untuk mengenakan baju berbahan sasirangan.
Selain lewat pameran dan intervensi aturan walikota, Ibnu berharap Presiden Joko Widodo melirik kain sasirangan untuk dikenakan sebagai pakaian resmi, selain batik asal Jawa. Sebab, kata Ibnu, kain sasirangan sebenarnya sejenis batik asli kebudayaan Banjar, Kalimantan Selatan. “Kalau bisa, menteri-menteri pakai sasirangan. Mudah-mudahan sasirangan jadi salah-satu kriya luarbiasa dan ikon baru bagi Indonesia,” ujar bekas anggota DPRD Kalimantan Selatan itu.
![]() |
| Perajin sasirangan berdiskusi di Rumah Anno 1925 di Kota Banjarmasin. |
Pemkot Banjarmasin mendata ada 18 motif sasirangan yang telah punya hak paten, seperti kambang kacang, gigi haruan, daun jaruju, dan kambang sakaki. Ibnu pun mengingatkan, perajin sasirangan harus sanggup memenuhi permintaan, ketika sasirangan mulai diminati pasar. Selain itu, Ibnu mendorong perajin sasirangan menjaga kualitas dan kuantitas mutu produksinya. “Sasirangan kan hand made, jadi tidak mungkin sama setiap produknya, kecuali yang printing. Saat kami ke luar negeri juga mengenalkan sasirangan, kami ingin setiap orang yang datang ke Banjarmasin ingat kain sasirangan,” kata Ibnu.
Ketua Dekranasda Kalimantan Selatan, Raudhatul Jannah, mengatakan promosi sasirangan harus melibatkan semua pihak, baik pelaku industri, masyarakat, dan pemerintah daerah. Karena itu, Raudhatul turut menyokong upaya mengenalkan industri kreatif berbasis kain sasirangan di kancah nasional dan dunia. Raudhatul mengakui masih ada kendala sebagian perajin belum siap memenuhi permintaan dalam skala banyak. “Kalau banyak order, tapi tidak diimbangi kualitas dan kuantitas, mana mau orang pesan lagi? Tolong jaga kualitas dan kuantitas kain sasirangan ini,” kata istri Gubernur Sahbirin Noor itu.
Rangkaian Banjarmasin Sasirangan Festival berlangsung pada 17-19 Maret 2017 yang dipusatkan di Jalan Pierre Tendean. BSF 2017 juga dimeriahkan 32 stan pamerah produk sasirangan. Adapun puncak gelaran BSF akan diisi parade kain sasirangan yang diikuti ratusan orang pada Minggu, 19 Maret 2017.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Diananta P. Sumedi
