RABU, 23 MARET 2017
MAUMERE — Terlantarnya pembangunan kantor Bupati Kabupaten Sikka sekitar 5 tahun silam, meninggalkan tiang-tiang beton yang merusak pemandangan dan membuat kesan kumuh dan tidak terawat di areal seluas sekitar 1 hektare, persis di Jalan Negara Trans Flores, yang saat ini menjadi Kantor Bupati Sikka, sementara.
| Gedung Sikka Convention Center milik Pemerintah Kabupaten Sikka yang baru diresmikan. |
Selain itu, di Kabupaten Sikka dari tahun ke tahun semakin banyak kegiatan, baik bersifat lokal, nasional dan internasional, sehingga harus memiliki gedung yang representasi untuk melaksanakan kegiatan tersebut. “Untuk itu, Pemda Sikka melakukan pembangunan gedung serba guna di atas lahan ini, untuk disewakan kepada berbagai pihak demi meningkatkan pendapatan daerah,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Sikka, Agustinus Boy Satrio.
Dalam sambutan peresmian Gedung Sikka Convention Center (SCC) itu, Boy mengatakan, pembangunan gedung serba guna ini menelan dana Rp2,8 miliar yang berasal dari Dana Alokasi Umum 2016. Adapun luas gedung mencapai 1.144 meter persegi dan memiliki daya tampung sekitar 1.000 orang.
Sementara itu, Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, mengatakan, melihat kondisi bangunan kantor bupati yang terlantar, ia bersama DPRD Sikka menginginkan pembangunan kantor bupati dilanjutkan, namun setelah melakukan tes konstruksi di Surabaya, ternyata tidak direkomendasikan pembangunannya jika dilanjutkan hingga 3 lantai sesuai rencana semula.
Karenanya, pembangunan kantor bupati dilakukan di Jalan El Tari saja di kantor bupati yang sedang ditempati, dan bangunan yang terlantar ini dimanfaatkan sebagai gedung serba guna, karena masyarakat sering protes menyaksikan terlantarnya bangunan kantor bupati.
“Saat saya ke Universitas Nusa Nipa, saya melihat ada jurusan arsitektur sehingga saya cek dan ternyata ada dosen S2 lulusan Yogyakarta yang berpengalaman merancang pembangunan, sehingga saya menghubunginya untuk merancangnya,” ujarnya.
| Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera, menandatangani prasasti peresmian Gedung Sikka Convention Center. |
Lewat sentuhan tangan putra asli Sikka, kata Ansar, perencanaan bangunan SCC bisa direalisasikan dengan desain yang sangat bagus dan modern seperti di kota-kota besar lainnya. “Saya ingin, agar dibentuk sebuah badan untuk mengelolanya sehingga bisa mengelola bangunan ini secara maksimal, agar bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah ini,” ungkapnya.
Bagi lembaga pemerintah, swasta dan masyarakata yang ingin memanfaatkan gedung ini, dibolehkan sejauh bisa menjaga dengan baik, karena ini juga merupakan gedung rakyat yang dibangun dari uang rakyat.
Sony Kebupung, arsitektur yang juga konsultan perencana pembangunan gedung tersebut, di sela peresmian menjelaskan, selain membangun aula serba guna, pihaknya juga mendesain pembangunan bangunan-bangunan kecil lainnya di sekitarnya serta tempat parkir dengan konsep taman. Dengan demikian, bila ada kegiatan yang lebih kecil bisa memanfaatkan bangunan yang lebih kecil dan parkir area juga dengan konsep taman dan ada pemisahan ruang parkirnya, baik parkir pejabat, umum dan sepeda motor. “Karena anggarannya belum cukup, maka pembangunannya masih untuk gedung serba guna saja, sedangkan bangunan tambahan dan taman parkir untuk pembangunan lanjutannya tergantung Pemerintah Daerah,” terangnya.
Bangunan tersebut memiliki panjang 44 meter dengan lebar 16 meter, dan tiang beton lama yang terlantar dipotong dan hanya digunakan 3,5 meter saja, karena bila tingginya lebih, tidak akan kuat menahan beban dan pasti akan roboh.
Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary