BANTUL — Kawasan Pantai Baros di pesisir selatan Kabupaten Bantul, dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi hutan mangrove yang ada di Yogyakarta. Di wilayah sekitar muara Sungai Opak inilah, kegiatan konservasi digalakkan guna memperbaiki kondisi kawasan yang dirasa mengalami kerusakan cukup parah. Salah satunya adalah dengan mengembangkan hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai.
![]() |
| Handoko. |
Warga masyarakat Dusun Baros, Trihanggo, Kretek, Bantul yang tergabung dalam Keluarga Pemuda Pemudi Baros sebagai kelompok penggiat konservasi di wilayah tersebut mengaku mulai melakukan upaya penanaman pohon mangrove sejak tahun 2003 silam. Penanaman pohon mangrove di kawasan pinggiran pantai dan muara sungai itu dinilai sangat penting, sebagai upaya menjaga ekosistem kawasan sekaligus mitigasi bencana tsunami.
“Dulu di sepanjang pantai ini sama sekali tidak ada pohon mangrove. Penanaman pohon mangrove oleh warga pertama kali baru dilakukan pada tahun 2003 atas bantuan mahasiswa UGM serta sejumlah LSM,” ujar salah salah seorang penggiat Keluarga Pemuda Pemudi Baros, Handoko, belum lama ini.
Dikatakan Handoko, pada awal upaya penanaman pohon mangrove itu tak banyak warga masyarakat yang peduli akan pentingnya keberadaan vegetasi sekitar pantai berupa hutan mangrove. Baru setelah adanya peristiwa gempa bumi tahun 2006 di Bantul, masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya keberadaan hutan mangrove yang turut mempengaruhi kehidupan warga.
“Gempa bumi tahun 2006 itu mempengaruhi gelombang pasang air laut yang kemudian memporak-porandakan kawasan sekitar pantai. Puluhan hektar lahan pertanian milik warga mengalami kerusakan dan gagal panen. Namun pada saat itu, lahan pertanian yang berada di sekitar hutan mangrove (yang telah ditanam 3 tahun sebelumnya) justru tidak terkena dampak. Dari situlah warga kemudian menjadi sadar akan pentingnya keberadaan hutan mangrove,” katanya.
Sejak saat itu, semakin banyak warga desa yang ikut serta dalam melakukan upaya konservasi dengan melakukan pengembangan hutan mangrove. Secara swadaya mereka bersama-sama melakukan upaya-upaya seperti penggalangan dana dan bantuan demi memperluas luasan kawasan hutan mangrove di wilayah tersebut. Menurut Handoko, dari sekitar 100 hektar kawasan pesisir yang ada, saat ini baru sekitar 5 hektar saja yang telah tertanami pohon mangrove.
“Hutan mangrove yang kita tanami ini masih sebaran. Jadi tidak seluruhnya. Karena kita masih belum bisa melakukan pembibitan secara maksimal. Masih sangat terbatas. Sehingga kita harus membeli bibit dari luar,” katanya.
Sejak adanya hutan mangrove di kawasan ini, warga merasakan dampak positif secara langsung. Seperti lahan pertanian yang tidak lagi terpengaruh terpaan gelombang pasang, hingga perbaikan ekosistem kawasan yang ditunjukan dengan munculnya ikan dan kepiting di sekitar muara. “Jika dulu warga hanya mencari ikan di bulan Agustus saja, kini ikan bisa ditemukan setiap hari. Selain itu juga mulai banyak burung yang migrasi ke kawasan ini. Ada 49 jenis burung yang kita temukan,” katanya.
Dalam mengelola kawasan hutan mangrove ini, warga juga mengembangkan sektor pariwisata dengan membuka kawasan hutan mangrove sebagai lokasi kunjungan berbasis eko wisata. Dari catatan pengelola dalam setahun terakhir sudah ada 40 instansi yang mengunjungi kawasan hutan mangrove ini. Selain melakukan kegiatan minat khusus berupa penanaman pohon mangrove, tak sedikit pula lembaga atau instansi yang melakukan penelitian di kawasan ini.
“Banyak peneliti dari universitas luar negri seperti Universitas Michigan Amerika, Universitas Shizuoka Jepang dll yang datang ke sini untuk melakukan penelitian. Karena memang disini kan pengembangan hutan mangrovenya dilakukan benar-benar dari nol, dari semula tidak ada sama sekali,” katanya.
Pengembangan hutan mangrove di kawasan pantai Baros ini dikatakan Handoko juga dilakukan dengan perlakukan khusus. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan jaring sebagai penyaring sampah, serta penahan angin dan gelombang. Pasalnya sebagai kawasan muara, banyak sampah yang ikut terbawa arus dan menggotori kawasan hutan mangrove ini.
“Kita berencana memperluas kawasan hutan mangrove ini hingga sepanjang pesisir pantai selatan Bantul. Mulai dari pantai Samas, pantai Baros hingga ke arah pantai Depok. Saat ini dari pantai Samas hingga pantai Baros sepanjang 1,5 kilo sudah mulai kita tanami mangrove,” katanya.
![]() |
| Salah satu sudut Pantai Baros yang baru saja ditanami bibit bakau dengan pelindung jaring. |
Handoko berharap upaya konservasi hutan mangrove di kawasan pantai Baros dapat memberikan manfaat bagi warga sekitar. Baik itu secara ekonomi, lingkungan, maupun keamanan terhadap resiko bencana yang sewaktu-waktu mungkin terjadi.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
