Interpretasi Blogger dengan Keanggunan Kebaya Jawa

RABU, 8 MARET 2017

SEMARANG — Mereka mempunyai sudut pandang berbeda dalam melihat etos keperempuanan yang mempengaruhi rasionalisasi sikap dan pola pikir, tetapi walaupun dari dunia yang berbeda ternyata Rahmi Aziza dari komunitas Blogger Gandjel Rel dan Maya Diana Kusumadewi dari Komunitas Diajeng Semarang berhasil mencapai satu tujuan yang sama. Mereka membuat masyarakat kembali menyadari bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang penuh kreativitas dan tangguh tanpa melupakan kodratnya sebagai seseorang yang mampu mendampingi suami dan membesarkan anak.

Komunitas Diajeng Semarang tampak anggun memakai kebaya dan jarik.

Kegelisahan karena perempuan Indonesia seringkali limbung akibat arus globalisasi menimbulkan kecemasan bagi Rahmi, banyaknya perempuan yang menjadi korban eksploitasi akibat kurangnya informasi dan pergaulan bebas seringkali malah menyudutkan kondisi kejiwaan mereka.

Sementara Maya menganggap bahwa saat ini generasi muda telah melupakan sejarah kebesaran masa lalu sehingga dikhawatirkan anak cucu ke depan tidak bisa mengenali lagi filosofis keindahan busana adat Jawa. Karena itulah Rahmi dan Maya tergerak untuk bisa mengangkat derajat martabat kaumnya. Dengan keahliannya menulis, Rahma sering berkumpul dengan penulis di Semarang berinisiatif untuk membuat komunitas blog Gandjel Rel yang isinya juga membicarakan tentang masalah yang dihadapi perempuan.

Menurut Rahmi, sifat perempuan itu seringkali pemalu, sehingga ketika mendapat masalah mereka bingung mau bercerita ke siapa, jika memang bisa menemukan orang yang diajak curhat baginya tidak masalah, tetapi problem akan muncul jika orang yang diajak berkomunikasi ternyata malah memanfaatkan permasalahan perempuan tersebut sehingga bukannya selesai, wanita tersebut akan mengalami tekanan batin. Salah satu solusinya adalah dengan blog, karena dalam blog biasanya sudah terdapat artikel tentang masalah perempuan lengkap dengan solusinya. Apalagi jika yang menulis blog tersebut adalah perempuan, perasaan empati akan bertambah erat.

Rahmi Aziza, Ketua Komunitas Blogger Gandjel Rel.

“Menurut penelitian, wanita bisa mengeluarkan kata-kata duapuluh ribu perhari, sehingga jika tidak mendapat tempat untuk curhat, bisa jadi dirinya akan menderita,” terang Rahmi kepada CDN (08/03/2017).

Lain Rahmi, lain pula dengan Maya, Ketua Komunitas Diajeng Semarang ini berpendapat bahwa kecenderungan perempuan saat ini dikatakan modis jika sudah bisa mengikuti perkembangan zaman, terutama soal fashion, karena itu dirinya beranggapan sejatinya busana Jawa sebagai salah satu warisan adiluhung yang bisa bertransformasi untuk mengikuti perkembangan zaman, seperti yang dilakukan oleh Anie Avanti, desainer asal kota lumpia tesebut. Karya Anie bahkan sudah diakui di mancanegara.

Saat disinggung mengenai peringatan Hari Perempuan Internasional, Rahmi berpandangan bahwa saat ini perempuan sudah mempunyai kebebasan berekspresi, tetapi jangan sampai salah mengartikannya menjadi berkumpul tanpa batasan, karena hal itu yang akan merusak diri sendiri, apalagi di zaman media sosial dimana manusia bisa berkomunikasi dengan siapapun dan kapanpun, perempuan harus dituntut untuk menjaga sikap jika ingin dimuliakan.

Menurut Rahmi, perempuan harus cerdas dalam mengikuti perkembangan zaman untuk selalu bisa membawa diri. Karena itulah mereka harus mendapat asupan informasi yang berimbang agar tidak menyesatkan. Menjadi Blogger adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi tersebut, Rahmi mengajak para perempuan untuk rajin menulis di blog agar pengetahuan yang didapatkan bisa berguna bagi orang lain.

“Jargon Komunitas Gandjel Rel adalah, ngeblog ben rak ngganjel (ngeblog biar tidak mengganjal), itulah cara komunitas kami untuk berekspresi secara positif,” imbuh Rahmi.

Sedangkan Maya selaku ketua KDS ingin mengajak wanita di Jawa Tengah untuk kembali mencintai warisan budaya yaitu busana kain dan kebaya tanpa menyinggung atau menyudutkan cara berpakaian orang lain. Yang lebih penting bagi Rahmi dan Maya, walaupun saat ini perempuan sudah diberikan kebebasan berekspresi sehingga mereka bisa mengangkat derajatnya, tetapi jangan sampai melupakan kodratnya bahwa tugas utama perempuan adalah mendampingi suami dan membesarkan anak-anak. Itulah anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada mereka. Dengan kelembutan dan kesabaran yang dimiliki perempuan adalah pondasi untuk menciptakan generasi mendatang.

Hal ini pula yang selalu didengungkan oleh Hevearita Gunaryanti Rahayu, Wakil Wali Kota Semarang. Di tengah kesibukannya membantu Hendrar Prihadi mengurusi permasalahan masyarakat, perempuan yang akrab dipanggil Mbak Ita ini mengaku tidak akan pernah melupakan suami Alwin Basri dan anak semata wayangnya Muhammad Farras Razin Perdana.

Ketua Komunitas Diajeng Semarang, Maya Diana Kusumadewi.

Walaupun perempuan sudah memiliki ilmu dan kedudukan tinggi, tetapi mereka mempunyai fitrah untuk mengurusi rumah tangga, karena bagaimanapun juga jika ada permasalahan yang tidak bisa terselesaikan, keluarga adalah kelompok pertama yang memberikan support.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...