Cabai Rawit di Papua Tembus Rp200 Ribu per Kilo

KAMIS, 16 MARET 2017

JAYAPURA — Indeks harga komoditas di Papua cukup tinggi, salah satunya cabai rawit yang kini harga per kilo berkisar antara 180 hingga 200 ribu rupiah. 

Seorang petani saat bersihkan ladangnya di Kabupaten Keerom

“Harga cabai memang di pasar sudah mahal, kami panen di sini hanya sedikit. Karena memang waktu kami tanam, cabai di kota sedang banyak,” kata Ponirah, salah satu petani di Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Kamis (16/03/2017).

Menurut Pon sapaan akrabnya, biasanya cabai murah karena kiriman dari luar Papua berjalan lancar.

“Sudah hampir sebulan kiriman dari luar belum datang, itu yang buat harga mahal. Karena hanya ambil dari lokal seperi di Keerom atau Koya Barat, Koya Timur (Kota Jayapura),” ujarnya.

Terkait hal tersebut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Simon Sapari mengaku pihaknya akan terjun langsung ke delapan kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua, khususnya ke pasar-pasar untuk meninjau langsung harga-harga yang melonjak tinggi.

“Survei kami akan list beberapa wilayah untuk dijadikan sampel, karena biaya terbatas jadi kami tak semua kabupaten kota,” kata Simon.

Kepala BPS Provinsi Papua, Simon Sapari

Pengambilan sampel akan dilakukan BPS ke sembilan kabupaten kota yang ada di wilayah Provinsi Papua. Dimana, kabuaten tersebut secara teori dapat dijadikan patokan dasar naiknya harga, agar informasi sesuai kepada publik.

“Delapan kabupaten kota itu Merauke, Jayawijaya, Jayapura, Nabire, Yapen, Mimika, Sarmi, Kabupaten Biak dan Kota Jayapura,” tuturnya.

Meningkatnya harga cabai rawit per kilo di pasaran yang ada di ibukota Provinsi Papua sangat bervariasi, seperti di pasar Skouw perbatasan 130 hingga 150 ribu rupiah, pasar Youtefa 150 hingga 170 ribu rupiah, pasar Hamadi 180 hingga 200 ribu rupiah.

Jurnalis : Indrayadi T Hatta / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Indrayadi T Hatta

Lihat juga...