JUMAT, 31 MARET 2017
BANTUL — Sebagai upaya meningkatan produktivitas padi dalam rangka mendukung program swasembada pangan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan DIY, terus melakukan pendampingan budidaya padi dengan penggunaan inovasi teknologi. Salah satunya melalui inovasi sistim Jajar Legowo Super (Jarwo Super).
![]() |
| Pengelolaan sawah di Yogyakarta. |
Teknologi padi jajar legowo (jarwo) super merupakan teknologi budi daya padi secara terpadu dengan lima komponen teknologi pelengkap berbasis cara tanam jajar legowo. Sistim ini telah diuji keunggulannya oleh Balai besar Penelitian Padi (BB Padi) di Sukamandi pada musim tanam 2016 melalui dem area seluas 50 ha pada lahan sawah irigasi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dan mendapat hasil memuaskan.
“Varietas Inpari-30 Ciherang Sub-1, Inpari-32 HDB, dan Inpari-33 telah berproduksi di atas 10 ton GKG/ha, sedangkan produktivitas varietas Ciherang yang diusahakan petani di luar dem area hanya 6,0 ton GKG/ha. Selain itu, dari hasil analisis usaha tani juga menunjukkan bahwa teknologi Jarwo Super sangat layak dikembangkan pada skala luas,” ujar Dr. Arlyna Budi Pustika Peneliti BPTP Yogyakarta, Jumat (31/03/2017).
Dikatakan Arlyna, dalam implementasinya di lapangan, teknologi padi Jarwo Super menggunakan sejumlah komponen di antaranya benih bermutu varietas unggul baru (VUB) dengan potensi hasil tinggi, biodekomposer pada saat pengolahan tanah, hingga pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang.
Selain itu juga diterapkan menggunakan teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu, serta alat mesin pertanian terutama untuk tanam dan panen.
“Keunggulan cara tanam jajar legowo super di antaranya mampu mempercepat pengomposan jerami saat pengolahan tanah. Pemberian pupuk hayati sebagai seed treatment juga dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), menambat nitrogen dan melarutkan fosfat yang sukar larut serta meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Selain itu pestisida nabati juga efektif dalam pengendalian hama tanaman padi. Penggunaan alsintan juga dapat menghemat biaya tenaga kerja serta mengurangi kehilangan hasil panen, ” paparnya.
Melihat berbagai keunggulan tersebut, BPTP Yogyakarta bersama pihak terkait, pada tahun 2017 ini melakukan demplot jajar legowo super di kabupaten Bantul seluas 3 hektar. Tepatnya di Dusun Kanten, Desa Kebonagung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Demplot ini dalam pelaksanaan nya menggunakan VUB Inpari 30, Inpari 31 dan Inpari 32 yang memiliki daya hasil yang tinggi dengan perlakuan agrimet, serta olah tanah dengan penyemprotan dekomposer.
Selain itu proses penanaan juga dilakukan secara serempak dengan menggunakan mesin tanam / transplanter. Sementara pengendalian hama penyakit tanaman dilakukan dengan gerakan tanam refugee, lampu perangkap dan feromon PBP.
“Dengan adanya demplot jajar legowo super ini diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi. Yang sampai saat ini masih gencar dilakukan oleh pemerintah, baik itu melalui Luas Tambah Tanam (LTT) maupun peningkatan produktivitas padi,” katanya.
Pemerintah sendiri dikatakan telah menetapkan Swasembada Berkelanjutan Padi, Jagung, kedelai dalam waktu 3 tahun. Pada 2017 ini pemerintah juga menetapkan target ekspor beras sebanyak 100.000 ton. Sehingga untuk mendukung program tersebut Kementerian Pertanian menetapkan sasaran produksi padi sebesar 78.132.000 ton di tahun 2017, naik sekitar 3.06% dari tahun 2016 sebesar 76.226.000 ton.
Selama dua tahun terakhir, peningkatan produksi padi melalui pendampingan Upaya Khusus (UPSUS) telah diperoleh penambahan luas tanam 15.364.627 hektar, naik dari tahun lalu 15.064.761 hektar.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana