SENIN, 20 MARET 2017
MATARAM — Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB, Widada menyebutkan, kesadaran sebagian besar masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna, terutama berbagai macam satwa yang hidup di kawasan hutan, masih sangat rendah.
![]() |
| Kepala BKSDA NTB, Widada |
“Penangkapan terhadap binatang satwa yang dilindungi masih kerap dilakukan, sehingga lambat laun, satwa yang ada seperti monyet dan rusa yang ada dan hidup di kawasan hutan bisa mengalami kepunahan,” kata Widada di Mataram, Senin (20/3/2017).
Ia mengatakan, ancaman kepunahan kelestarian flora dan fauna, khususnya satwa, selain karena penangkapan dan penjualan, juga karena semakin parahnya kerusakan kawasan hutan di NTB.
Selama 2016 saja, luas kawasan hutan NTB yang mengalami kerusakan mencapai 500 ribu hektar, jelas selain mengancam keberlangsungan hidup manusia, juga keberlangsungan berbagai spesies binatang yang hidup di kawasan hutan.
“Untuk itu diperlukan gerakan bersama, termasuk pelibatan masyarakat, memberikan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman flora dan fauna, termasuk kawasan hutan, supaya keberadaan kawasan hutan sebagai sumber kehidupan manusia dan satwa yang hidup di dalamnya bisa berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Widada.
Ditambah, selain tindakan hukum, pendekatan secara persuasif guna membangun kesadaran masyarakat juga harus terus dilakukan, karena bisa jadi mereka melakukan penangkapan dan penjualan berbagai binatang dilindungi, karena rendahnya pengetahuan dan pemahaman, sehingga membutuhkan edukasi.
Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi