Berkah Air Gunung Rajabasa, Hidupi Sawah dan Kolam Ikan

RABU, 22 MARET 2017

LAMPUNG — Menata sistem tata kelola hutan berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan kini pepohonan menghijau, mulai memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Taman Baru. Mata air yang kembali mengalir setelah bertahun-tahun kering, kini mulai dimanfaatkan sebagai sumber pengairan kolam ikan.

Koidir menunjukkan kolamnya

Koidir menyebut, guna menyeleraskan program pembangunan pedesaan, ketersediaan air yang mulai bisa dikelola dengan baik mulai dimanfaatkan oleh warga untuk sumber peningkatan ekonomi. Dari sekitar puluhan hektare lahan sawah irigasi, perkebunan, hampir seluruhnya sangat tergantung pada sumber mata air Tebing Ceppa, dan kini saat musim kemarau pun para petani tidak pernah kesulitan memperoleh pasokan air.

Khusus untuk lahan pertanian dengan pola penggunaan air irigasi, petani sawah di wilayah tersebut bahkan bisa melakukan penanaman sekitar 3 kali dalam setahun, karena lancarnya pasokan air tanpa terganggu musim kemarau. Warga bahkan tak memerlukan peralatan tambahan seperti mesin pompa untuk mengairi sawah, untuk menanam padi akibat pola terasering yang dimanfaatkan warga di lahan persawahan kaki Gunung Rajabasa tersebut. “Pola tanam padi yang tak mengenal musim membuat warga bisa memiliki stok di lumbung padi, dan sebagian menggantungkan hidup dari perkebunan coklat dan cengkeh yang ada di kaki Gunung Rajabasa,” ungkap Koidir.

Tahun ini, pun direncanakan Desa Taman Baru juga akan mengembangkan budidaya ikan air tawar dan mengembangkan desa tersebut sebagai sentra budidaya air tawar di Kecamatan Penengahan. Koidir sendiri memiliki sekitar empat petak kolam ikan seluas sekitar 60 meterpersegi, dan memelihara ikan air tawar seperti nila, mujahir, emas dan gurami.

Sebagian besar warga di Desa Taman Baru juga memiliki kolam dengan ukuran berbeda-beda. Baik kolam tanah, terpal, maupun permanen. Berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Koidir mengaku akan mengembangkan budidaya air tawar untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Air bersih yang lancar, air untuk lahan pertanian dan kolam ikan air tawar, diakui Koidir merupakan anugerah yang belum tentu dimiliki oleh desa lain. Ia berharap, dengan program satu rumah satu kolam atau menggencarkan program budidaya kolam air tawar, meski menggunakan kolam terpal, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Pasalnya, saat ini harga ikan air tawar dijual dengan seharga Rp15.000 per kilogram untuk ikan nila, dan ikan gurami sekitar Rp30.000 per kilogram. “Potensi air sudah cukup bagus. Tinggal kita memaksimalkannya, dan saya memulai dengan membuat beberapa kolam sebagian untuk budidaya dan sebagian untuk disewakan bagi para penghobi memancing,” ungkap Koidir.

Salah satu warga lain, Joni (34), yang memiliki lahan terbatas mengaku hanya bisa membuat kolam dengan semen ukuran 4 x 6 meter. Namun, dengan memelihara ikan konsumsi di antaranya ikan gurami dan lele, selain bisa dikonsumsi sendiri juga bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Lancarnya air tersebut bahkan diakui Joni dengan air yang mengalir dari selang rata-rata luber di setiap rumah, dan luberan atau limpasan air bersih itulah yang mengalir ke kolam-kolam milik penduduk dan dimanfaatkan untuk budidaya kolam ikan air tawar.

Kini, kata Joni, warga sudah tak pernah mengeluhkan kebutuhan air bersih. Saluran pipa-pipa, selang yang ada di tepi-tepi jalan yang kini menghiasai desa tersebut, dan merupakan sumber air bersih yang bisa cuma-cuma diperoleh warga. Selain digunakan untuk keperluan air bersih, pertanian, kolam ikan, sebagian pemilik modal menggunakan pasokan air yang melimpah itu untuk dijual menggunakan mobil tanki ke sejumlah wilayah yang kekurangan air seperti di Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Bakauheni. Sementara sebagian memanfaatkan air bersih untuk membuat tempat pencucian kendaraan roda dua dan empat yang menambah pemasukan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...