RABU, 22 MARET 2017
LAMPUNG — Gersang dan sulit memperoleh air bersih untuk keperluan sehari-hari dan untuk lahan pertanian sawah dan perkebunan, terutama saat musim kemarau, sehingga harus membeli air dari wilayah lain. Demikian gambaran kondisi Desa Taman Baru pada sekitar 1990-an, dalam kenangan Koidir Nuh (40), Bendahara Desa Taman Baru, Penengahan.
![]() |
| Bak penampung air bantuan PNPM |
Koidir menceritakan, kondisi Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, pada puluhan tahun silam mengalami kekeringan sebagai akibat pemanfaatan hutan di lereng Gunung Rajabasa, Kecamatan Penengahan, yang sebagian kayunya ditebangi, dan areal lahan digunakan untuk perkebunan semusim tanpa melakukan program penanaman kembali (reboisasi).
Namun, aparat Desa Taman Baru cepat tanggap dan merapatkan kondisi tersebut, dan melakukan peninjauan di beberapa titik, termasuk sumber mata air yang debitnya mulai menurun, bahkan nyaris kering, yaitu Mata Air Tebing Ceppa. Selain pohon yang ditebangi tanpa ada penanaman kembali, tidak terawatnya mata air menjadi biang warga kesulitan memperoleh air bersih pada saat itu.
Berkat kesepakatan warga penghuni masyarakat kawasan hutan di bawah kaki Gunung Rajabasa seluas ratusan hektare, bersama Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Selatan, proses penanaman kembali sejumlah pohon di titik tepat di atas Mata Air Tebing Ceppa, bisa dilakukan.
Koidir mengungkapkan, berbagai jenis pohon yang bagus untuk penyuplai air di antaranya pohon beringin, pohon gondang, damar mata kucing, randu, serta bambu, ditanam di sebagian lahan yang sudah mulai gersang. Hasilnya baru dirasakan masyarakat sekitar awal 2000, dengan mulai lancarnya pasokan air untuk kebutuhan air bersih masyarakat dan kebutuhan lahan pertanian.
“Kita pernah mengalami pengalaman buruk susahnya memperoleh sumber air bersih, namun masyarakat mulai sadar air menjadi kebutuhan pokok dan kita duduk bersama mencari akar masalahnya, ditemukan dan akhirnya sepakat kawasan penyangga air tak boleh lagi dirusak atau dimanfaatkan untuk perladangan,” terang Koidir.
Kawasan hutan Gunung Rajabasa, terutama di daerah tangkapan air (catchment area), daerah aliran sungai dan mata air Tebbing Ceppa, juga disepakati oleh warga mulai dijaga untuk keperluan jangka panjang yang bermanfaat bagi masyarakat. Meski air sudah mulai lancar mengalir bersumber dari mata air tebbing ceppa, dan mengalir melalui sungai kecil, namun masalah baru muncul.
Menurut Koidir, masalah itu di antaranya adalah jarak antara pemukiman warga dengan sumber mata air bersih yang mencapai 5 kilometer, sementara warga masih menggunakan cara manual dalam melakukan penyaluran air bersih dengan menggunakan pipa dan selang. Ratusan pipa berukuran kecil yang digunakan warga merupakan kebutuhan masing-masing keluarga, sehingga setiap keluarga mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendapatkan air bersih.
![]() |
| Koidir |
Koidir mengatakan, instalasi air bersih milik warga tersebut disediakan secara mandiri, dan rata-rata menghabiskan uang sekitar Rp500-1 juta. Namun, beruntung akhirnya pada 2010, Desa Taman Baru mendapatkan bantuan Pemerintah melalui Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, pada masa kepemimpinan Bupati Rycko Menoza SZP, dengan pembuatan bak penampungan air bersih. Program tersebut digulirkan melalui PNPM Mandiri Pedesaan Tahun Anggaran 2010.
Menurut Koidir, bantuan tersebut selain bak instalasi air bersih (pipanisasi) yang mengalirkan air bersih dari sumber mata air tebing ceppa yang debitnya bisa mencapai 25 liter per detik juga terkoneksi dengan saluran selang milik warga. “Dengan demikian, warga jadi lebih menghemat sekitar 4,5 kilometer jarak dari perumahan ke mata air, karena pipa berukuran sekitar 8 inchi disalurkan ke bak, lalu warga tinggal menyalurkan ke perumahan dan ini menghemat pengeluaran untuk membeli selang,” terang Koidir.
Tata kelola hutan dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga pepohonan yang berpotensi menyimpan cadangan air, kata Koidir, merupakan kunci untuk menjaga pasokan air. Selain tak pernah mengeluh kekurangan air, upaya warga menjaga hutan, memanfaatkan tata kelola air dan tata ruang kehutanan yang berbatasan dengan desa yang baik, membuahkan desa tersebut menerima bantuan Pemerintah melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) II pada 2014.
Bantuan tersebut persis sama dengan program pipanisasi yang digulirkan oleh PNPM Mandiri pedesaan, sehingga Desa Taman Baru akhirnya memiliki dua bak besar penampungan air yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Koidir menyebut, dua bantuan dari Pemerintah itu tidak akan diperoleh jika masyarakat tidak bersama-sama menjaga hutan dan kawasan hutan sebagai penyangga air. Bantuan bagi wilayah pedesaan yang minim akan ketersediaan air bersih dan didanai oleh APBN 2014, itu pun semakin mempermudah masyarakat Desa Taman Baru memperoleh air bersih.
Meski sebagian ari bersih ditampung di bak penampungan program PNPM Mandiri Pedesaan dan PAMSIMAS II, namun sebagian air bersih tersebut masih lancar mengalir di sungai-sungai kecil yang dialirkan ke areal persawahan milik warga setempat. Lancarnya air dengan ketersediaan infrastruktur saluran irigasi, kata Koidir, sekaligus dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kolam.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
