Sumiyati, Puluhan Tahun Lestarikan dan Kembangkan Anggrek

SELASA, 21 FEBRUARI 2017
YOGYAKARTA — Kecintaannya yang begitu mendalam pada anggrek membuat wanita satu ini rela mendedikasikan hidupnya untuk tanaman bunga cantik dengan aneka jenis dan warna itu. Dengan penuh kesabaran, selama puluhan tahun, ia mempelajari dan memelihara berbagai jenis anggrek untuk dibudidaya atau dikembangkan. Ia juga tak pernah berhenti menularkan dan mempopulerkan anggrek pada semua orang.

Sumiyati saat berada di kebun anggrek pekarangan rumahnya.

Dialah Sumiyati, warga Miliran, Muja-Muju, Umbulharjo, Yogyakarta. Wanita satu ini telah mulai membudidayakan anggrek sejak tahun 1976 silam. Bersama suaminya ia mencoba membudidayakan anggrek di pekarangan rumahnya. Ia bahkan rela mengikuti berbagai macam kursus atau pelatihan anggrek di sejumlah tempat dan universitas demi mengembangkan anggrek.

“Sejak kecil saya memang sudah suka dengan anggrek, karena bunganya yang beragam dan berwarna-warni. Berawal dari hobi itulah saya kemudian mencoba membudidayakan anggrek sendiri,” katanya saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/02/2017).

Sebagai tanaman asal daerah tropis, anggrek memang banyak ditemukan di Indonesia. Hampir setiap wilayah di tanah air memiliki jenis tanaman anggrek yang berbeda. Meski begitu, tanaman yang biasa hidup menempel di batang pohon ini, terkenal memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi baik dalam hal perawatan maupun pengembangbiakannya. Hal inilah yang membuat harga bunga anggrek cukup mahal.

Berkat kesungguhan dan kesabarannya, Sumiyati dan suaminya pun berhasil mengembangkan anggrek dengan budidaya kultur jaringan, meski tanpa dasar ilmu formal di sekolahan, alias autodidak. Ia meneliti dan membuat laboratorium sederhana sendiri untuk melakukan proses pembudidayaan teknik kultur jaringan tersebut. Hasilnya kini ia telah mampu membudidayakan ataupun menyilangkan bermacam jenis angrek.

“Awalnya selalu gagal, namun setelah banyak belajar dengan mengikuti kursus-kursus, dan terus mencoba, akhirnya bisa berhasil. Ada banyak jenis anggrek yang sudah dibudidayakan mulai jenis dendrobium, gramatofilum, anggrek bulan, vanda, dan sebagainya,” katanya.

Tak sekadar membudidayakan anggrek untuk pribadi, Sumiyati pun selalu menularkan ilmu tentang budidaya angrek itu kepada orang lain. Wanita yang aktif dalam Asosiasi Anggrek Kota Yogya dan Paguyuban Pecinta Anggrek DIY ini selalu mendorong orang-orang di sekitarnya untuk melestarikan dan membudidayakan anggrek. Bertahun-tahun Kelompok Wanita Tani Wedari Kandang, tempatnya membudidayakan anggrek bahkan selalu menjadi tempat tujuan siswa-siswi SMK melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

“Ada 14 anak siswa SMK Pertanian yang PKL di sini setiap bulan. Mereka kita sediakan tempat tinggal di sini secara gratis. Kebetulan di rumah juga ada kamar kosong. Mereka di sini belajar bagaimana membudidayakan anggrek. Ada yang dari Brebes, Klaten, Sragen, Kulonprogo dan sebagainya,” katanya.

Tak hanya itu, Sumiyati juga aktif mendorong dan mendidik ibu-ibu rumah tangga Kelompok Tani Wanita (KWT) di Yogyakarta untuk melestarikan, memelihara dan membudidayakan anggrek. Ia bahkan menghibahkan 500 botol hasil kultur jaringan dengan puluhan bibit anggrek di setiap botolnya untuk sejumlah KWT tersebut. Tak hanya memberikan bibit secara gratis, ia juga mengajari setiap teknik pembudidayaan maupun perawatan anggrek kepada mereka.

Sumiyati.

“Salah satu kendala pengembangan anggrek di Kota Yogyakarta memang adalah terbatasnya lahan yang ada. Padahal potensi dari budidaya anggrek ini sebenarnya sangat besar. Saya sendiri berharap ada satu lahan yang bisa disediakan dan dimanfaatkan bersama-sama oleh semua kelompok wanita tani di Yogyakarta ini untuk bisa membudidayakan anggrek sehingga lebih maksimal,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...