SABTU, 18 FEBRUARI 2017
SEMARANG — Rendahnya kesadaran masyarakat Semarang untuk memakai sepeda saat bekerja menjadi keprihatinan tersendiri bagi komunitas Semarang Gowes Jemuwah Bengi (Semarang Gowes Jumat Malam) atau Segowangi.
![]() |
| Nana Podunde (kelima dari kiri) Ketua Segowangi |
Ketua Segowangi, Nana Podunde (45) mengatakan, saat ini masyarakat masih sampai pada tahap sepeda untuk berolahraga sementara motor atau mobil untuk bekerja sehingga seringkali menyebabkan jalan macet dan polusi semakin tinggi.
“Padahal di negara maju sepeda sudah jamak dipakai kerja, bahkan kantor-kantor sudah menyediakan tempat parkir sepeda,” terang Nana saat ditemui CDN (17/02/2017).
Karena itu komunitas Segowangi akan mengkampanyekan kesadaran Bike to Work kepada masyarakat, caranya dengan melakukan karnaval bersepeda sehat yang secara rutin dilaksanakan hari Jumat Malam.
![]() |
| Sepeda-sepeda yang akan digunakan Segowangi saat akan memulai karnaval sepeda hari Jumat Malam |
Menurutnya Hari Jumat Malam dipilih karena di negara-negara lain juga sering memilih hari Jumat malam untuk melakukan kampanye sepeda. Rute yang dipilih pun sering berbeda agar tidak cepat bosan, malam itu mereka memilih rute Thamrin-Dr.Cipto-Sriwijaya-Tugu Muda-Imam Bonjol kemudian kembali ke Balai Kota.
“Di tempat yang ditentukan kami sengaja berhenti dan berfoto-foto agar masyarakat tahu bahwa bersepeda itu mengasyikkan,” tambah Nana.
Nana Podunde juga berharap Pemkot secara serius untuk menertibkan jalur sepeda yang ada di Semarang, sebab dirinya sering melihat jalur tersebut lebih banyak digunakan pengendara motor yang bersliweran seenaknya sehingga membahayakan para pengguna sepeda.
Menurutnya Pemkot memang sudah berinisiatif membangun jalur bersepeda sejak tahun 2010 dan mulai terealisasi pada akhir tahun 2011, tetapi pengawasan yang dilakukan dirasa masih kurang, akibatnya ada beberapa kejadian pemakai sepeda ditabrak oleh pengguna motor. Jangan sampai pembangunan jalur sepeda hanya untuk memenuhi syarat menjadi Smart City.
“Lebih ironis lagi di Jalan Indraprasta dan MT Haryono malah digunakan untuk tempat berjualan PKL,” keluh Nana.
Komunitas Segowangi sendiri berdiri di Semarang pada bulan Februari tahun 2014, terinspirasi ketika mengikuti Jogja Last Friday di Yogyakarta, dia berinisiatif mendirikan komunitas serupa di Semarang. Ketika disinggung tentang jumlah anggotanya, Nana mengaku tidak tahu dengan pasti karena siapapun boleh ikut bersepeda santai, biasanya sekitar 50 orang mengikuti acara rutin di hari Jumat malam.
Selain acara rutin bersepeda bersama di Jumat Malam, Segowangi juga sering memanfaatkan momen Car Free Day untuk mengkampanyekan Bike To Work. Hari-hari besar juga menjadi perhatian tersendiri untuk melakukan kegiatan sosial. Seperti saat hari pahlawan, komunitas tersebut membagi bingkisan secara Cuma-Cuma kepada ‘Pahlawan’ penyapu jalan.
Di bulan Desember 2016 mereka mengadakan acara Bike Camping, yaitu melakukan perjalanan dari Semarang ke Jepara sejauh 60 km dengan bersepeda, kemudian dilanjutkan berlayar ke Pulau Panjang dan menginap disana.
![]() |
| Berfoto bersama seluruh komunitas Segowangi di depan Balaikota Semarang |
Ketika disinggung harapan ke depan, Nana mengaku tidak muluk-muluk, dia hanya ingin mewujudkan mimpi bahwa sepeda tidak hanya menjadi sarana berolahraga, tetapi sudah menjadi alat transportasi ideal untuk bekerja.
“Tanpa disadari, saya merasa masih sehat ketika teman-teman seumuran saya sudah mulai mengeluh sering pegal-pegal,” ungkap Nana yang setiap hari mengaku rutin bersepeda ke kantornya sejauh 4 km.
Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

