Masyarakat Mentawai Sulit Terima Program KB

KAMIS, 23 FEBRUARI 2017

PADANG — Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Barat, Syahruddin, mengakui, daerah di Kebupaten Kepulauan Mentawai merupakan salah-satu daerah yang sulit untuk menerapkan program Keluarga Berencana (KB). Hal itu disebakan masyarakat di Mentawai memiliki kultur yang sulit untuk menerima hal-hal baru, serta adanya kesulitan soal akses untuk menemui masyarakat di pedalaman Mentawai.

Syahruddin, Kepala BKKN Sumatera Barat

Syahruddin menyebutkan pula, BKKBN akan terus berupaya untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat di Mentawai, agar bisa menerima program KB tersebut. Cara yang dilakukan oleh petugas BKKBN di lapangan, ialah pendekatan diri dengan masyarakat, sembari memberikan pemahaman terkait pentingnya mengikuti program KB.

Saat ini, di Mentawai memang ada 1 Kampung KB, namun tidak berjalan dengan baik, karena sebelumnya ada penolakan dari masyarakat setempat. “Saya menilai, penolakan yang dilakukan oleh masyarakat di Mentawai merupakan hal wajar, karena hal baru perlu untuk dikenali dulu. Jadi, untuk memberikan pengenalan itu, kita dari BKKBN melakukan pendekatan ke setiap warga, dan mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan sosialisasi program KB,” ujarnya, Kamis (23/2/2017).

Syahruddin menjelaskan lagi, jika dilihat jumlah peserta KB baru yang telah dicapai pada 2016 sebanyak 145,279 akseptor atau 94,90 persen dari target yang sudah ditetapkan, yakni 153.090 akseptor, maka hal ini menunjukan adanya penurunan pencapaian jumlah peserta KB baru sebanyak 7.811 akseptor dari jumlah yang sudah ditargetkan.

Meski di tahun 2016, lalu, target peserta mengalami penurunan, namun di 2017 ini, BKKBN Sumatera Barat bertekad untuk melaksanakan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga  (KKBPK) lebih baik dari tahun sebelumnya. Upaya yang dilakukan di antranya dengan membenahi kekurangan-kekurangan seperti melalui pembinaan pegawai yang dilaksanakan secara terus-menerus.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...