LAMPUNG—Warga Dusun Umbul Besar, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, masih terus dihantui kekhawatiran akibat banjir limpasan air Sungai Way Sekampung masih menggenangi ratusan rumah di wilayah tersebut. Hampir lebih dari empat hari. Pemilik rumah yang berada di sebelah tanggul di dekat aliran sungai Way Sekampung tersebut bahkan masih bertahan di tenda-tenda darurat dari terpal sebagai lokasi pengungsian sementara. Juga tempat tinggal dengan mengandalkan bantuan bahan makanan dari pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial serta Dinas Kesehatan yang masih mendirikan posko kesehatan di lokasi pengungsian di dekat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Guppy 05 dengan tenda khusus untuk pelayanan kesehatan.
![]() |
| Sore hari warga mulai mengolah rebus untuk makan malam. |
Salah satu warga yang tinggal di tenda darurat pengungsian,Sukaesi (55) mengungkapkan, meski telah mendapat beberapa bantuan makanan berupa beras, ikan sarden, mie instan serta bantuan lain namun sebagian sudah dikonsumsi. Sukaesi juga mengaku, terpaksa menghemat konsumsi makanan bantuan karena belum mengetahui kapan pastinya banjir akan surut sehingga ia memanfaatkan ubi kayu atau singkong untuk selingan makan malam bersama keluarganya.
“Bantuan makanan masih ada sebagian dan juga stok yang kami miliki tapi kalau melihat air belum surut akibat limpasan Sungai Way Sekampung kami terpaksa meminta singkong untuk direbus biar bahan makanan kami masih bisa dihemat,” ungkap Sukaesi, warga Dusun Umbul Besar, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, yang ditemui Cendana News masih bertahan di atas tanggul bersama beberapa warga lain dengan menggunakan terpal, Senin (27/2/2017).
Beberapa warga lain yang berada di luar tanggul dan tidak terimbas banjir bahkan mengungkapkan, kerap mengunjungi Sukaesi dan warga lain yang mengungsi untuk menemani keluarga yang masih mengungsi. Salah satunya, Atun (45) yang mengaku setiap hari selalu mengunjungi warga lain yang mengungsi untuk memberi dukungan moril dan memberikan bantuan makanan seadanya untuk meringankan beban keluarga yang terimbas banjir.
Selain mulai mengkonsumsi singkong sebagian warga juga sebagian mulai mengeluhkan beragam penyakit akibat banjir yang merendam perumahan mereka. Akibatnya, posko kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan mulai didatangi puluhan warga sejak didirikan selama tiga hari terakhir dan pada hari ketiga Senin (27/2/2017) tercatat sekitar 163 warga yang mengunjungi posko kesehatan yang didirikan di dekat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Gupi V Dusun Umbul Besar, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi.
Menurut penanggungjawab posko kesehatan, Erni Hidayah (30) mendampingi Kepala Puskesmas Sragi, Sumari, mengungkapkan posko yang didirikan di dekat tenda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan dilengkapi dengan ruang pemeriksaan dan sebanyak 5 tenaga perawat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di antaranya menurut Erni Hidayah dimulai dari pemeriksaan tekanan darah dan pemeriksaan keluhan penyakit lain diantaranya keluhan diantaranya diare (Ge), gatal-gatal (Dhermatitis) atau kutu air, pusing-pusing (cephalgia) serta beberapa warga lain mengeluhkan penyakit lainnya.
![]() |
| Warga Desa Umbul Besar masih bertahan di tenda darurat. |
“Kita lakukan pendataan dan pemeriksaan dan rata-rata pasien dominan mengeluhkan penyakit pasca banjir di antaranya sakit perut dan gatal-gatal yang diderita oleh warga akibat sebagian perumahan warga belum surut,” terang penanggung jawab posko kesehatan yang didirikan oleh Dinas Kesehatan Kecamatan Sragi saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (27/2/2017).
Ia juga mengaku untuk pemeriksaan kesehatan bagi korban banjir di Dusun Umbul Besar Desa Bandar Agung dilakukan dengan sistem jemput bola dengan cara mendatangi rumah-rumah warga yang terendam dan melakukan pemeriksaan sekaligus pemberian obat-obatan. Beberapa obat yang disiapkan di antaranya jenis paracetamol, anatisida, salep serta beberapa obat antibiotik, oralit serta jenis-jenis obat-obatan lain. Meski demikian, selama proses pemeriksaan dominan obat yang kerap diberikan kepada para pasien berupa jenis salep untuk pasien yang mengeluhkan penyakit kulit.
Beberapa pasien yang didominasi pasien ibu-ibu dan orang dewasa bahkan setiap hari mendatangi posko kesehatan yang terbuat dari tenda dan dilayani oleh petugas yang bersiaga sejak pagi. Khusus untuk petugas yang disediakan di antaranya sebanyak lima orang di antaranya perawat dan apoteker dari farmasi. Selain orang dewasa pasien yang datang di antaranya membawa serta anak-anak yang berusia di bawah lima tahun (balita) meski jumlahnya sedikit.
![]() |
| Rumah warga yang masih terendam banjir. |
Berdasarkan data selama tiga hari terakhir rata-rata per hari jumlah pasien yang datang 41 orang pada hari pertama, 66 orang di hari kedua dan pada hari ketiga mencapai 70 orang. Jumlah yang terus meningkat tersebut rata-rata merupakan warga yang mengeluhkan penyakit gatal-gatal.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

