MINGGU, 5 FEBRUARI 2017
PONOROGO — Marlin (39 tahun) warga Dusun Munung, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo memilih terjun menjadi pengusaha kerupuk mentah. Meski baru berjalan sekitar satu bulan, kerupuk buatannya diminati masyarakat. Hal ini dibuktikan dari awal produksi hingga sekarang, dirinya mampu menjual satu ton krupuk.
![]() |
| Marlin saat menunjukkan kerupuk mentah buatannya |
Bahan yang digunakan pun bebas dari bahan pengawet, mulai dari tepung terigu, kanji dan bawang putih sebagai perasa. Meski tanpa bahan pengawet, kerupuk buatan Marlin ini mampu bertahan hingga satu tahun karena saat penjualan kerupuk sudah benar-benar kering dan siap digoreng.
Ibu tiga orang anak ini menjelaskan usaha ini dilakukan guna mengisi waktu luang di rumah, untuk sementara proses pembuatannya pun dibantu oleh anggota keluarga dan warga.
“Dibantu lima orang anggota keluarga, kadang warga yang datang kesini juga ikut membantu,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Minggu (5/2/2017).
Marlin menambahkan proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu singkat namun yang paling lama proses saat penjemuran. Jika matahari sedang terik, dibutuhkan waktu empat jam saja. Namun jika musim hujan maka bisa dipastikan satu hari penuh belum tentu kering.
“Kalau tidak kering benar, nanti saat digoreng tidak bisa mekar, jadi harus benar-benar kering,” ujarnya.
Proses pembuatannya cukup mudah, adonan kerupuk diuleni kemudian diaduk didalam alat, dikukus hingga matang kemudian didiamkan hingga benar-benar dingin setelah itu dipotongi dengan mesin dan dijemur hingga kering.
Dalam satu hari Marlin mampu memproduksi satu kwintal krupuk mentah kering. Kerupuk yang dijual Marlin hanya memiliki satu varian rasa, yakni rasa bawang. Marlin ingin menguji pasar dahulu, apakah kerupuk yang dibuatnya diterima masyarakat atau tidak.
“Saat ini karena masih baru berjalan, kerupuk ini saya titipkan di warung-warung atau terkadang ada pengepul yang datang ambil,” tuturnya.
![]() |
| Proses penjemuran kerupuk mentah |
Kerupuk mentah hasil produksi Marlin dijual dengan merk ‘tiga bintang’, Marlin juga tidak pelit berbagi ilmu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warga sekitar yang datang sembari membantu juga bertanya cara membuat kerupuk.
“Meski saya bisa memproduksi satu harinya satu kwintal, banyak masyarakat yang mau turun tangan membantu dan tidak meminta bayaran,” pungkasnya.
Jurnalis : Charolin Pebrianti / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Charolin Pebrianti
