Disuntik Dana Damandiri, Usaha Keripik Singkong ‘Ceu Kembar Bangkit Lagi

RABU, 8 FBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Keripik singkong, camilan khas nusantara pengundang selera dari meja warung hingga etalase super market. Harga mulai seribu hingga puluhan ribu rupiah, tidak akan mempengaruhi para penggemarnya untuk membeli keripik singkong. Namun, siapa sangka, jika salah-satu pembuat keripik singkong terbaik ada di Selatan Jakarta, tepatnya di Rawa Simprug, Grogol Selatan.

Masniah dan Keripik singkong buatannya

Perjalanan Keripik Singkong Rawa Simprug
Sekitar 1985, Ibu Sukaesih bersama Pak War, suami-istri asal Bandung dan Sukamandi, mulai menjalankan usaha kecil-kecilan membuat keripik singkong di Rawa Simprug, RW 09, Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pelanggannya adalah warung-warung di daerah Rawa Simprug hingga pegawai-pegawai kantor wilayah di Jakarta Selatan.

Cara pembuatan keripik singkong Ibu Sukaesih masih tradisional. Terlebih dahulu dibuat bumbu sambal keripik singkong dari bahan-bahan seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, gula pasir dan garam secukupnya. Setelah bumbu selesai dibuat, singkong yang sudah dibersihkan kemudian diserut menjadi potongan-potongan tipis, lalu digoreng kering renyah. Setelah semua selesai, keripik singkong dicampur bersama bumbu sambal. Dengan proses pembuatan seperti ini, keripik singkong Sukaesih dari Rawa Simprug dengan ciri khas sensasi pedas yang tidak terlalu menusuk lidah, langsung mendapat tempat di hati masyarakat.

Namun, karena alasan kesehatan, pembuatan keripik singkong Sukaesih  terhenti di awal 2013. Setelah vakum sekitar 3 tahun, menginjak akhir 2016, anak pertama Sukaesih, yaitu Masniah, memutuskan untuk melanjutkan usaha tersebut. Dengan memahami betapa orang Indonesia gemar makan cemilan, salah-satunya keripik singkong, Masniah melihat peluang meraup laba jika bisa kembali mengembangkan bisnis tersebut.

“Orangtua saya menurunkan semua resep pembuatan keripik singkong miliknya, terutama pembuatan bumbu pedas untuk menjaga ciri khas rasa yang selama ini akrab di lidah para pelanggan,” tutur Masniah.

Brand keripik singkong Masniah, dibuat setelah ada pendampingan dari Damandiri.

Januari 2017, Masniah mulai membuat keripik singkong pedas. Dengan 3 kilogram singkong, Masniah mampu menghasilkan 50 kemasan kecil dan 5 kemasan setengah kilogram keripik singkong pedas setiap harinya. Dengan harga Rp. 2.000 untuk keripik singkong pedas kemasan kecil dan Rp. 20.000 untuk keripik singkong pedas kemasan setengah kilogram, Masniah mampu meraup omzet Rp. 200.000 per hari. Pelanggan Masniah adalah warung-warung sekitar kediamannya dan karyawan-karyawan kantor swasta tempat adiknya bekerja di Jakarta Selatan.

Bertemu Yayasan Damandiri
Awal Februari 2017, Masniah bertemu Ketua Posdaya Bougenville binaan Yayasan Damandiri, Intan Nuraini. Karena Intan merangkap sebagai Sekretaris RW 09, Kelurahan Grogol Selatan, ia sudah tahu bagaimana usaha Masniah. Intan melihat potensi usaha Masniah bisa lebih berkembang, jika ikut Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja). Masniah pun datang ke Sekretariat Tabur Puja Posdaya Kenanga Simprug untuk mendapat penjelasan detil mengenai keuntungan menjadi anggota Tabur Puja.

“Selain bisa menabung dan memperoleh pinjaman kredit mikro dengan ikut Tabur Puja, Masniah bisa mendapat pembinaan wirausaha berkelanjutan serta peluang mengikuti bazaar maupun pameran usaha mikro yang kerap diadakan Yayasan Damandiri, demi menambah penghasilan para pedagang kecil,” kata Intan Nuraini.

Masniah akhirnya setuju dan mengisi formulir pengajuan pinjaman Tabur Puja di Posdaya Kenanga Simprug. Sejak pengisian formulir pengajuan di awal Februari 2017, aplikasi pengajuan kredit Masniah sudah masuk daftar antrian persetujuan kredit. Dengan pengajuan pinjaman awal sebesar Rp. 2 Juta, pengurus Posdaya Kenanga Simprug yakin, usaha keripik singkong pedas milik Masniah bisa berkembang lebih baik lagi dari sekarang. Pengurus juga mencoba memberdayakan Masniah, agar menyiapkan identitas produknya jika memang ingin masuk ke dunia industri kuliner yang lebih besar bersama Yayasan Damandiri.

Lahirnya Keripik Singkong ‘Ceu Kembar
Optimis dengan masa depannya bersama Tabur Puja, dibantu pengurus Posdaya Kenanga Simprug dan Bougenville, Masniah membuat brand atau merk khusus sebagai identitas keripik singkong pedas buatannya. Keripik Singkong ‘Ceu Kembar’ adalah nama yang dipilih Masniah. “Ibu saya memiliki seorang saudara kembar, makanya kami memilih nama tersebut,” pungkasnya.

Sambil menunggu pencairan modal usaha Tabur Puja, Masniah tidak mau kehilangan momentum. Justru dengan pengajuan aplikasi kredit Tabur Puja, ia mendapat suntikan semangat baru untuk terus memproduksi keripik singkong ‘Ceu Kembar.  Sekarang, ia kerap melayani pemesanan dari karyawan-karyawan kantor tempat adiknya bekerja. Dalam satu hari, adik Masniah bisa menjual 5-10 bungkus keripik singkong ‘Ceu Kembar’ kemasan plastik ukuran setengah kilogram kepada rekan-rekan kerjanya.

Menurut perhitungan Intan Nuraini, Ketua Posdaya Bougenville, dengan modal keripik singkong ‘Ceu Kembar’ sebesar Rp. 100.000 setiap hari, Masniah selama ini sudah bisa menghasilkan omzet Rp. 200.000. Jika tersentuh Tabur Puja sebesar Rp. 1 Juta saja, penghasilan Masniah bisa mencapai Rp. 2 Juta. Dan, dengan cicilan Rp. 202.000 ditambah simpanan Rp. 10-20.000, Masniah pasti sanggup membayar cicilan sebesar Rp. 222.000  setiap bulannya, untuk termin pelunasan 10-12 bulan.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...