KAMIS, 16 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Suaminya bekerja sebagai buruh kasar di Pekayon Bekasi dan anak semata wayangnya bersekolah di Sekolah Dasar Tarakanita, Jakarta Selatan. Sedangkan Siwi Astuti menjalankan usaha pulsa elektronik di rumah sambil sesekali menerima tugas layanan jasa di salah satu fitur aplikasi yang dijalankan sebuah perusahaan pengelola moda transportasi online terkemuka di Jakarta.
| Siwi Astuti. |
Konsentrasi agar anak satu-satunya bisa mendapatkan pendidikan layak di tempat yang tepat, adalah tujuan Siwi dan suaminya banting tulang bekerja siang dan malam selama ini. Khususnya Siwi, ia harus memutar otak setiap hari untuk biaya sehari-hari anak sekolah berikut kebutuhan lainnya agar penghasilan suami tidak tergerus habis hingga mengganggu pemenuhan kebutuhan yang lain.
Siwi berjualan pulsa elektronik di rumah untuk melayani kebutuhan para tetangga di sekitar kediamannya. Modal awal Siwi terhitung kecil, yakni hanya Rp 1 juta. Dari modal sejumlah itu, omset Siwi adalah Rp 1,1 juta setiap 2 hari sekali. Kalkulasinya, selama dua hari kegiatan usaha berjalan, pendapatan bersih Siwi Rp 50 ribu per hari. Jika ditanya cukup atau tidak, jawaban Siwi adalah tidak cukup.
Tapi Siwi bersikeras bahwa pulsa elektronik sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang tidak bisa dihindari, dan harus dipenuhi bagaimanapun caranya. Keberadaan gadget dan sejenisnya membuat pengusaha pulsa elektronik terus berkembang. Akan tetapi dengan modal terlalu kecil, sulit bagi Siwi untuk mendapatkan hasil maksimal.
“Keuntungan saya hanya seribu rupiah dari satu kali penjualan pulsa elektronik. Lebih dari itu, saya akan ditinggalkan pelanggan. Mencoba usaha rumahan lainnya, saya tidak punya keahliannya. Lagipula usaha pulsa elektronik sangat menjanjikan sampai saat ini,” tutur Siwi kepada Cendana News.
Bahkan dengan bergabung menjadi anggota layanan jasa dari salah satu perusahaan pengelola moda transportasi online terkemuka di Jakarta juga belum bisa memberikan solusi tambahan penghasilan. Singkatnya, perlu tambahan modal bagi Siwi untuk mendapatkan hasil mencukupi. Inilah awal yang berhasil mempertemukan Siwi dengan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) Yayasan Damandiri.
Pada November 2016, Siwi mendapat fasilitas pinjaman modal usaha bunga ringan dari Tabur Puja sejumlah Rp 2 juta. Menggunakan dana Rp 1,5 juta, ia kembangkan modal usaha pulsa elektroniknya dari Rp 1 juta menjadi Rp 2,5 juta. Dengan modal sebesar itu, omset Siwi meningkat dari Rp 1,1 juta setiap dua hari sekali menjadi Rp 2.750.000. Dengan begitu, pendapatan bersih Siwi selama dua hari dari penjualan pulsa elektronik adalah sejumlah Rp 250 ribu. Naik signifikan seiring bertambahnya modal, begitulah yang bisa dikatakan tentang hasil usaha Siwi setelah mendapat suntikan modal Tabur Puja.
Sisa modal usaha Tabur Puja sebesar Rp 500 ribu ia belikan tambahan perlengkapan untuk pelayanan jasa yang dilakukannya lewat perusahaan moda transportasi online ternama selama ini. Mulai dari cream, minyak sampai jenis kelengkapan lain ia sediakan untuk meningkatkan pelayanannya. Dan hasil dari pekerjaannya ini cukup untuk menambah penghasilan juga demi membesarkan anak semata wayangnya.
“Alhamdulillah, usaha pulsa elektronik meningkat berkat modal usaha Tabur Puja. Dan pekerjaan saya di layanan jasa yang dikelola sebuah perusahaan transportasi online ternama juga berjalan dengan baik karena didukung modal usaha itu,” pungkas warga RT 12 dan RW 09 Rawa Simprug ini mengakhiri perbincangan dengan Cendana News.
Jika cicilannya sudah selesai dan masih diberi kepercayaan, Siwi akan meminjam dana Tabur Puja untuk terus menambah modal pulsa elektronik agar lebih besar. Karena semakin besar modal otomatis semakin banyak keuntungannya. Karena, begitulah yang berlaku dalam bisnis pulsa elektronik.
Cicilan Siwi saat ini sudah masuk cicilan ketiga dengan besar cicilan sejumlah Rp 235 ribu selama 10 bulan. Ditambah tabungan wajib sebesar Rp 15 ribu, Siwi kerap menyetor cicilan sejumlah Rp 250 ribu setiap bulan di Hari kas Posdaya Kenanga Simprug.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw