Damandiri Sejahterakan 148 Anggota Tabur Puja RW 04 Jagakarsa

JUMAT, 24 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak 1950, warga RW 04 Jagakarsa, Jakarta Selatan hidup layaknya warga pedesaan yang aman serta tenteram dengan penghasilan mereka sehari-hari secara konvensional, yakni berkebun dan berdagang. Menghidupi keluarga untuk hari ini dan akan mencarinya lagi untuk memenuhi kebutuhan esok hari.

Pencairan dana pinjaman modal usaha di Hari Kas Posdaya Cempaka.

Mengikuti perkembangan zaman, perubahan mulai terasa melalui masuknya para pendatang yang membawa persaingan menjadi lebih ketat.

“Yang banyak uang memang para pendatang, karena mereka membeli tanah di sini untuk ditempati. Bagi warga yang dapat rejeki tanahnya laku bisa berubah nasibnya, sedangkan bagi yang susah tetap saja susah. Walau begitu, kesusahan tidak terlalu kentara di sini karena kami menjalani saja kehidupan walau sulit secara ekonomi tanpa ribut-ribut,” kata Elih Sahid, mantan Ketua RT 05 selama 30 tahun di RW 04 Jagakarsa.

Masuknya pendatang dan perkembangan zaman yang semakin modern turut membawa masuk hal-hal menarik ke wilayah Jagakarsa. Salah satunya adalah peredaran bank keliling yang menawarkan pinjaman modal usaha kepada para pedagang kecil. Dari pinjaman Rp 1 juta, pedagang menerima sejumlah Rp 900 ribu karena berbagai potongan biaya. Lalu para pedagang mengikuti aturan pembayaran cicilan harian yang besarnya tergantung jumlah pinjaman. Jika tidak sanggup menyerahkan cicilan hari ini, keesokan harinya cicilan mereka membengkak akibat berlipatnya bunga dan denda.

“Warga yang sudah susah tambah menderita karena ulah para oknum bank keliling itu. Hal ini salah satu pertimbangan saya menerima pendirian Posdaya dengan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja di dalamnya. Sudah saatnya masyarakat diselamatkan agar bisa aman tenteram menuju sejahtera,” ujar Yessy Febriane, Ketua Posdaya Cempaka, RW 04 Jagakarsa, binaan Yayasan Damandiri, kepada Cendana News.

Kepengurusan Tabur Puja Posdaya Cempaka dipimpin oleh seorang Kabid Tabur Puja, dibantu bendahara merangkap kasir, petugas pengajuan dan pencairan pinjaman, serta administrasi. Mereka berada di bawah pengawasan seorang Asisten Kredit (AK) dari Manajemen Tabur Puja Yayasan Damandiri. Untuk keperluan simpan pinjam, Posdaya Cempaka menentukan Hari Kas pada Rabu setiap pekannya.

Seluruh Penanggung Jawab (PJ) sub kelompok akan datang menyetorkan cicilan anggota mereka setiap Hari Kas. Dari delapan RT di bawah RW 04, hanya tujuh RT yang menyatakan siap menjalankan Tabur Puja, sehingga jumlah PJ Tabur Puja Posdaya Cempaka hanya empat orang dengan masing-masing menghimpun anggotanya dari dua lingkungan RT.

“Peran PJ sangat vital dalam pergerakan Tabur Puja. Untuk melakukan konsolidasi maupun sosialisasi, PJ kami kerap mengadakan pertemuan internal sub kelompok di sekretariat Posdaya Cempaka. Tempat ini memang luas dan lebih cocok untuk menghimpun pertemuan dalam jumlah hadirin yang cukup besar,” tambah Yessy.

Melalui sosialisasi terus-menerus setiap Hari Kas, para PJ dapat menghimpun 40 orang anggota awal Tabur Puja dengan pinjaman modal usaha masing-masing sejumnlah Rp 2 juta. Bagi anggota awal, termin pengembalian yang diambil rata-rata 12 bulan.

“Anggota terus bertambah setiap bulannya sampai akhirnya sekarang kami memiliki 148 anggota Tabur Puja aktif dengan termin pengembalian bervariasi mulai 6-12 bulan. Mereka terdiri dari para pelaku usaha mikro yang butuh tambahan modal usaha,” pungkasnya.

Perputaran dana Tabur Puja dari Posdaya Cempaka semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah anggota. Lebih dari Rp 200 juta dana Tabur Puja berhasil diputar oleh pengurus Posdaya demi mensukseskan misi mengentaskan kemiskinan sekaligus menyelamatkan warga miskin dari belitan bank keliling palsu atau rentenir.

Kegiatan Hari Kas Posdaya Cempaka.

Banyak di antara anggota Tabur Puja akhirnya berhasil mengembangkan usaha masing-masing. Baik dengan bertambahnya barang dagangan atau berhasil membuka usaha lain untuk melengkapi usaha yang sudah ada sebelumnya.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...