SELASA 3 JANUARI 2017
BANJARMASIN—Universitas Lambung Mangkurat sedang mengajukan banding terhadap keputusan assesor akreditasi 13 program studi. Rektor Unlam, Sutarto Hadi, menyatakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi membatalkan kenaikan akreditasi institusi Unlam setelah 13 dari 93 program studi belum terakreditasi.
![]() |
| Rektor Unlam, Sutarto Hadi. |
“Ada 13 prodi belum dapat nilai karena prodi baru, ini yang mengganjal,” ujar Sutarto Hadi di sela pelantikan pejabat baru Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Selasa (3/1/2017). Padahal, Sutarto berharap kekurangan ini bisa ditutupi dengan skor lain.
Hasil ini membuat akreditasi Unlam tetap B. Tetapi, dia belum tahu peningkatan skor institusinya. “Skor minimal akreditasi A yakni 361, sebenarnya tinggal selangkah lagi ke A,” ujar dia.
Berdasarkan daftar institusi dengan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) A per 26 Desember 2016 yang dirilis BAN-PT, Unlam tidak masuk dalam daftar tersebut. Adapun daftar perguruan tinggi yang terakreditasi A berjumlah 48 perguruan tinggi dengan rincian 27 PTN, 15 PTS, tiga PTN agama, dan tiga PTN-Kementerian/ Lembaga.
Ia pun lekas mengajukan banding sambil melampirkan bukti-bukti baru untuk memperkuat akreditasi 13 prodi tersebut. Hasilnya, tiga program studi sukses meraih nilai akreditasi baru, yakni prodi Bahasa Inggris dari B menjadi A, prodi Pendidikan Fisika dari C menjadi B, dan prodi Kesejahteraan Masyarakat dari tidak terakreditasi menjadi B.
“Kami tidak perlu tergesa-gesa karena masih ada waktu memperbaiki. Kami terus mencari kelemahan dan segera diperbaiki,” ujar dia. Mengutip hasil assesor,
Sutarto mengatakan Universitas Lambung Mangkurat saat ini mengantongi nilai akreditasi 350-an. “Kalau sudah 350 itu nilainya B gemuk, minimal harus skor 361 agar akreditasi institusi naik,” Sutarto menambahkan.
Menurut dia, Unlam kesulitan meraih akreditasi A lantaran mesti mengelola institusi besar. Dengan asumsi 32 ribu mahasiswa, Sutarto mengklaim, Unlam sejatinya memiliki tenaga pendidik yang cukup mumpuni. “Unlam punya dosen sebanyak 260 orang dan 35 guru besar. Pengelolaan Unlam harus excelen,” ujarnya.
Itu sebabnya, Sutarto tegas menolak membandingkan pengelolaan Unlam dengan perguruan tinggi lain yang lebih kecil. Pihaknya terus memperbaiki segala sarana dan prasarana pendidikan lewat bantuan Islamic Development Bank. IDB menggelontorkan dana bantuan sebesar Rp370 miliar untuk pembangunan 12 item proyek gedung di Unlam
“Ada gedung Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, FISIP, auditorium, dan e-library. Semoga kontraktor bisa bangun gedung sesuai pagu, tawaran lebih tinggi tentu ada lelang ulang,” ujar dia. Sutarto berharap, penambahan sarana prasarana pendidikan bisa meningkatkan kualitas Unlam.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/foto: Diananta P. Sumedi