SENIN, 16 JANUARI 2017
PONOROGO — Ibu-ibu yang biasanya sering belanja ke pasar biasanya sudah tidak asing lagi dengan tas plastik anyaman, selain karena tahan lama juga karena harganya yang murah dan mampu membawa beban yang banyak tentunya menjadi pilihan utama. Salah satu sentra pembuatan tas plastik anyaman asal Ponorogo, berada di Desa Bulu, Kecamatan Sambit. Salah satu pembuatnya, Wiji Lestari (31). Ia mengaku usaha ini merupakan usaha keluarga, ia pun mendapatkan ilmu membuat tas plastik anyaman dari ibu mertuanya.
![]() |
| Tari saat memamerkan hasil produksi tasnya. |
“Saya memulai usaha ini sejak 2009, bantu-bantu ibu mertua terus belajar akhirnya bisa,” jelasnya kepada Cendana News, Senin (16/1/2017).
Bahan utama pembuatan tas ini, terdiri dari gagang rotan yang diambil dari pabrik yang berada di Surabaya sedangkan plastik sekaca berasal dari Ngawi. Plastik sekaca inilah yang dianyam oleh ratusan ibu untuk dirubah menjadi tas.
“Di sini kerjanya per kelompok, satu kelompok ada 100 perajin. Misalnya ada yang pesan 300 buah paling tidak sampai seminggu sudah jadi tasnya,” ujarnya.
Dalam satu hari, lanjut Tari, sapaan akrab Wiji Lestari, satu perajin bisa membuat 4-6 buah tas plastik anyaman. Satu tas dibanderol harga Rp 6-16 ribu tergantung ukuran dan modelnya. Ada yang berbentuk presisi persegi panjang, ada juga yang berbentuk trapesium.
“Kalau pemasarannya mudah, cepat sekali lakunya tas ini, saya sendiri juga heran. Ribuan tas yang pesen ini ya laku,” tandasnya.
Usaha yang dilakoninya bersama suami ini, menurutnya membawa berkah. Selalu saja ada orang yang pesan kepada dirinya. Tari bertugas membuat tas bersama ibu-ibu, sedangkan sang suami bertugas mengirim tas ke berbagai kota pelanggan.
“Pelanggan ada yang dari Ngawi, Bojonegoro, Tulungagung, Trenggalek, Jember, dan Kudus, Jawa Tengah,” cakapnya.
Selain menjual tas untuk ibu-ibu belanja ke pasar, Tari juga menyanggupi pesanan untuk suvenir dengan harga Rp 5–6 ribu tergantung besaran ukuran dan bahan. Ibu satu anak ini menjelaskan pemesan paling banyak saat musim kemarau dan musim pernikahan.
“Kalau musim hujan pemesannya sedikit,” tuturnya.
Satu kali pengiriman, Tari mampu mengirim ribuan tas yang sudah jadi dan siap jual. Tari pernah mengirim total 3500 tas ke Ngawi dan 1000 tas ke Bojonegoro.
![]() |
| Tas produksi Tari. |
“Suami saya yang jarang di rumah, hidupnya ada di jalan, keliling mengantar pesanan tas ke berbagai daerah,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
