Situs Sejarah Sikka (1): Lepo Gete Terancam Rubuh

JUMAT 6 JANUARI 2017
MAUMERE—Lepo Gete atau rumah besar merupakan sebuah warisan budaya yang seolah dibiarkan terlantar dan terancam punah. Tarik ulur soal pembangunan dan perawatan Lepo Gete menjadi sebuah kisah tersendiri yang bersemayam di balik terancamnya situs budaya dan sejarah Kerajaan Sikka yang berdiri sejak abad ke XV.
Bangunan Lepo Gete yang dilihat dari sisi timur.
Lepo Gete atau Istana Raja Sikka sejatinya merupakan rumah tinggal Raja Sikka bersama seluruh anggota keluarganya. Struktur bangunannya merupakan rumah panggung yang praktis di topang oleh tiang-tinag penyanggah dari kayu.
Bangunan bersejarah ini terdapat di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. Berjarak sektar 27 kilometer arah barat Kota Maumere, untuk menjangkaunya wisatawan bisa menumpang angkutan kota dengan biaya 15 ribu rupiah dari Kota Maumere.
Perjalanan juga bisa ditempuh menggunakan ojek sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu rupiah tergantung kesepakatan ataukah menyewa mobil dengan biaya 300 ribu rupiah sehari dengan lama perjalanan sekitar 30 menit dari Maumere.
Menyambangi Lepo Gete di penghujung tahun 2016 tepatnya Jumat (30/12/2016) Cendana News merasa miris menyaksikan kondisi Lepo Gete yang kian merana seakan memberi kesan bangunan bersejarah ini tidak dilirik walau dibangun kembali pemerintah Kabupaten Sikka menggunakan uang rakyat.
“Kalau tidak segera diperbaiki, bangunan bersejarah ini sebentar lagi akan rubuh dan tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari sebuah istana raja yang merupakan salah satu kerajaan Katolik di Nusantara,” sebut Gregorius Tamela Karwayu.
Pegiat sejarah dan budaya Sikka ini, mengakui, dirinya bersama kepala desa dan pastor paroki sempat bertemu keturunan raja guna meminta agar Lepo gete diperbaiki namun tidak ada tanggapan positif.
“Seharusnya pemerintah kabupaten yang mengambil inisiatif dengan mendatangi keturunan raja dan meminta agar Lepo Gete diambil alih. Harus dibeli agar warisan budaya ini menjadi aset pemerintah daripada dibiarkan terlantar,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Orestis Parera salah seorang saksi sejarah yang pernah mendiami Lepo Gete saat diajak berdiskusi oleh Cendana News. Sejatinya kata Orestis, pemerintah yang mempunyai kewenangan melestarikan situs sejarah ini.
Atap bangunan yang runtuh disebelah barat.
Bila ingin mempertahankan Lepo Gete sebutnya, pemerintah harus membangunnya kembali dengan mencari data tentang struktur bangunan aslinya dengan mewawancarai beberapa orang yang pernah mendiami istana raja ini.
“Jika dilihat, bangunan yang ada saat ini memang mirip namun ada beberap bagian yang belum sesuai sehingga sebaiknya dibangun baru saja,” tuturnya.
 Apalagi kondisi bangunannya pun kata Orestis sudah tidak layak lagi sebab semenjak dibangun tidak ada yang merawat dan menjaganya. Hampir setiap hari ada saja wisatawan yang datang untuk melihatnya.
“Bangunan ini sudah mendunia sehingga sayang bila pemerintah terkesan tutup mata dan membiarkannya rubuh tanpa ada langkah untuk memperbaiki dan menjadikannya sebuah situs wisata,” pungkasnya.
Benar apa yang disampaikan Goris dan Orestis kedua putra asli Sikka yang sangat peduli dan bangga melestarikan warisan sejarah dan budaya leluhur mereka yang nota bene bernaung di bawah satu kesatuan Kerajaan Sikka yang sempat masyhur abad ke XV.
Menatap Lepo Gete membuat Cendana News pun merasa miris melihat kondisi bangunannya. 
Bagunan yang semuanya dibuat dari kayu ini ditopang oleh 25 tiang buat pohon Tuak (Enau) dimana masyarakat menambahnya dengan tiang-tiang bambu di beberapa bagian agar bangunan tidak ambruk.
Terlihat bagian atap sebelah barat kayu penopang atap sudah runtuh dan atap berbahan ilalang pun sudah terlepas semua. Selain itu, dinding depan bagian barat pun sudah terlepas begitupun pembatas ruangan di bagian dalam.
Pintu utama dan pintu ruangan kamar juga sudah terlepas dan ada satu dua daun pintu yang cuma disanadarkan saja di dinding.Lantai kayunya pun sudah berbentuk cembung.
Saat sedang mengambil gambar, terlihat beberapa lelaki sedang tidur di bagian teras bangunan dan di bagian dalam ruangan Lepo Gete. Masyarakat sekitar sering memanfaatkan bangunan ini untuk tidur di siang hari kala cuaca sedang panas.
Rombongan wisatawan asal Belanda terlihat sedang mengabadikan bangunan ini dari berbagai sisi dan saat ditanyai mereka mengaku terkesan dengan kenunikan bangunan ini seraya mengtakan bila diabadikan dengan kamera hasilnya sangat bagus. (Bersambung).
Gregorius Tamela Karwayu, tokoh sejarah dan budayawan Sikka.
Jurnalis: Ebed de Rosary/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary
.
Lihat juga...