MINGGU, 29 JANUARI 2017
YOGYAKARTA — Kota Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota bersejarah yang ada di Indonesia. Di kota inilah, berbagai peristiwa penting yang mempengaruhi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pernah terjadi. Berbagai peningalan sejarah sejak masa Kerajaan, kolonial Belanda hingga masa Kemerdekaan dapat dengan mudah di temukan di kota ini. Tak heran banyak orang sering menyebut Yogyakarta sebagai kota kenangan.
![]() |
| Bangunan Indische di Jantung Kota |
Salah satu lokasi yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah kota Yogyakarta terletak di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Tepat di jantung kota inilah, banyak ditemukan bangunan-bangunan kuno yang menjadi saksi sejarah perjalanan kota Yogyakarta dari waktu ke waktu. Hampir semua bangunan kuno megah pertama kali dibangun di kawasan ini. Sebut saja Kraton Yogyakarta, Benteng Vrederburg, Istana Negara Gedung Agung, Kantorpos Besar, Gedung BNI 46, hingga Bank Indonesia dan sejumlah bangunan bergaya indische lainnya.
Menurut sejarawan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang juga anggota Jogja Heritage, Sumardiyanto, pendirian sejumlah bangunan indische di sekitar kawasan titik nol kilometer tersebut sebenarnya merupakan bukti sikap kekurangan-ajaran pemerintah kolonial Belanda. Pasalnya bangunan-bangunan kolonial itu dibangun tepat di muka alun-alun yang secara langsung membelakangi Kraton Yogyakarta.
![]() |
| Sejarawan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang juga anggota Jogja Heritage, Sumardiyanto |
Sebagaimana diketahui Kraton Yogyakarta merupakaan titik pusat sekaligus bagunan megah yang pertama kali dibangun di kota Yogyakarta. Kraton dibangun dengan menerapkan konsep sumbu filosofi yang menghubungkan Laut Selatan, Panggung Krapyak, Kraton, Tugu, dan Gunung Merapi di ujung utara. Sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal Sultan, Kraton menjadi simbol kekuasaan raja Jawa atas kota Yogyakarta.
“Namun pemerintah kolonial Belanda, tidak suka dengan kraton dan konsep sumbu filosofi itu. Mereka lalu berusaha memotong dan mengkaburkannnya. Yakni dengan membangun bangunan-bangunan megah yang langsung membelakangi kraton. Bahkan mereka dengan sengaja membangun perlintasan kereta api untuk memotong garis imajiner itu. Jelas itu semua merupakan bentuk kekurangan-ajaran Belanda,” katanya.
Terlepas dari itu semua, keberadaan sejumlah bangunan indische di kawasan tersebut telah menjadi bagian perjalanan sejarah kota Yogyakarta. Dengan gaya arsitekturnya yang unik, kawasan titik nol kilometer bahkan telah menjadi landmark kota Yogyakarta hingga saat ini. Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke Jogja merasa wajib mengunjungi kawasan yang kental dengan nuansa kekunoan dan jadul ini.
“Dari sisi arsitektur, hampir semua bangunan yang ada di kawasan totik nol kilometer itu dibangun dengan gaya Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis. Bangunan ini biasa disebut dengan bangunan indische. Bangunan semacam ini hanya terdapat di Indonesia. Karena di Belanda atau di Eropa juga tidak ada,” ujarnya.
Menurut dosen arsitektur itu, terdapat beberapa fase penyesuaian gaya arsitektur bangunan di sekitar kawasan titik nol. Pada masa awal, bangunan kolonial dibanguan dengan meniru gaya asli arsitektur Eropa, dimana bangunan dibuat meninggi tanpa adanya teras ataupun naungan pada setiap cendela maupun pintu-pintunya. Bangunan ini tercermin pada gedung BNI 46 yang dulunya merupakan gedung kantor perusahaan asuransi jiwa Nederlandsch- Indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ).
“Baru pada bangungan gedung Kantor Pos Besar (Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor) dan gedung Bank Indonesia (De Javasche Bank) terlihat banyak penyesuaian. Dimana bangunan dibuat dengan teras-teras serta naungan-naungan di atas cendela ataupin pintu yang menyesuaikan iklim tropis di Indonesia,” ujarnya.

Hingga saat ini kondisi sejumlah bangunan peninggalan kolonial di kawasan titik nol Yogyakarta sendiri masih terawat dengan baik. Sejumlah bangunan seperti BNI 46 dan kantor pos besar masih difungsikan sebagai gedung perkantoran, sementara bangunan Bank Indonesia hanya difungsikan sebagai moseum dan cyber library.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana
