Saut Situmorang Suarakan Hati Rakyat Kendeng Lewat Puisi

SENIN, 16 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Sastrawaan dan penyair Yogyakarta, Saut Situmorang mengatakan, dirampasnya lahan pertanian milik para petani Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, oleh pabrik semen, yang pendiriannya bahkan diizinkan oleh gubernurnya, merupakan sebuah ketidak-adilan pada rakyat kecil. Terlebih, tuntutan para petani Kendeng untuk mencabut izin operasi pabrik semen itu telah dikabulkan Mahkamah Agung sebagai institusi hukum tertinggi di negeri ini. 
Saut Situmorang, saat membacakan puisinya.
“Ini merupakan ketidak-adilan. Sebab, penduduk Kendeng sudah dimenangkan MA. Sementara gurbernur sebagai pejabat tertinggi negara di tingkat provinsi, justru tidak menghormati keputusan yang dikeluarkan sebuah institusi hukum tertinggi negara. Ini jelas menunjukkan sebuah kesewenang-wenangan rezim,” tutur Saut, saat mengikuti acar Gelar Budaya bertajuk ‘Selamatkan Kendeng’, yang digelar Komplek Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, (15/1/201), malam.  
Baca Juga:
Saut yang dalam aksi tersebut dengan lantang membacakan puisinya, juga mengatakan, jika sastrawan harus menjadi lidah bagi setiap masyarakatnya. Karena itu adalah fungsi sastrawan dan harus dilakukan oleh seorang sastrawan pada setiap setiap zaman. Sudah menjadi tradisi di negeri ini, sastrawan selalu menjadi tokoh terdepan untuk melawan ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.
“Sejak zaman penjajahan Belanda sekalipun, tokoh-tokoh pergerakan, adalah mereka para sastrawan. Mereka yang selalu di depan. Mulai dari Tirto Adi Seno, Pramudya, hingga terakhir Widji Thukul adalah para sastrawan,” cetusnya.
Sementara itu, lanjut Saut, puisi merupakan salah-satu bentuk atau cara sastrawan untuk melawan ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan. Sekaligus cara untuk menyuarakan suara hati rakyat di sekitarnya. Sastrawan sebagai elite masyarakat, dianggap memiliki tanggung-jawab besar terhadap apa yang dirasakan dan dialami masyarakatnya. Dan, berikut ini puisi yang dibacakan Saut; 
Matamu adalah lahan-lahan subur gembur, yang dicuri jadi pabrik-pabrik semen..
Matamu adalah kampung-kampung damai tentram, yang dikutuk jadi hotel-hotel bernama asing.. 
Matamu adalah banjir dan kemacetan lalu lintas, yang tak henti menghantui pagi dan malammu.. 
Matamu adalah anak-anak yang menangis kelaparan, tak punya uang untuk beli beras dan garam impor..
Matamu adalah harga BBM yang terus naik tiap kali kau kendarai sepeda motor kreditanmu ke tempat kerja.. 
Matamu adalah acara-acara televisi yang menayangkan gaya hidup orang-orang kaya, termasuk waktu mereka shoping ke luar negri..
Matamu adalah para anggota DPR yang megeluh gaji mereka terlalu rendah, sementara mereka mengendarai mersedes keluaran terbaru.. 
Matamu adalah polisi yang menembaki para mahasiswa yang sedang demo sambil memaki mereka anarkis dan teroris.. 
Matamu adalah preman-preman berjubah, memukuli mahasiswa yang sedang diskusi buku sambil memaki mereka komunis.. 
Matamu adalah sang presiden yang tak henti bilang: bukan urusan saya.. 
Matamu adalah media massa yang membuatmu memilih presiden keparat itu.. 
Matamu adalah sang penyair yang dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik dan kekerasan seksual verbal di facebook.. 
Matamu adalah pejabat negara yang tersenyum di televisi waktu ditangkap karena korupsi.. 
Matamu adalah supermall dan supermarket yang menjamur, menggantikan pasar-pasar tradisional di seluruh negrimu yang miskin.. 
Matamu adalah mata jutaan orang miskin yang marah dan tak tahan lagi menanggung semua ini, menunggu meledaknya revolusi berdarah, seperti sebuah gunung api yang lama mati.. 
Orang bilang tanah kita tanah surga, tentara dan polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha.. 
Orang bilang tanah kita tanah surga, buruh dan tani tak berharga dibanding asap pabrik dan pestisida.. 
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, karena tak ada lagi hutan dan sawah.. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...