Rengginang Barokah Ponorogo, dari Nenek Turun ke Cucu

SELASA 24 JANUARI 2017
PONOROGO—Makanan olahan ketan secara tradisional yang sering disebut rengginang atau krecek, ternyata memiliki pangsa pasar tersendiri. Cemilan renyah ini diminati berbagai kalangan masyarakat baik generasi tua dan muda. Rasanya yang gurih dan renyah serta memiliki cita rasa yang khas menjadikan rengginang sebagai cemilan yang paling banyak dicari.
Sutini menunjukkan produknya. 
Sutini (55 tahun) warga Dusun Godesan, Desa Ketonggo, Kecamatan Bungkal sudah menjalankan profesi sebagai pembuat rengginang sejak 1977. Usaha ini bermula dari sang nenek yang dikenal sebagai pembuat rengginang.
“Belajar dari nenek akhirnya turun temurun ke anak dan cucu,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Selasa (24/1/2017).
Sutini merupakan generasi kedua, sebagai generasi penerus tentu usaha ini semakin banyak berkembang. Selain karena sudah mengenal banyak pelanggan juga memasok beberapa toko oleh-oleh khas Ponorogo.
“Bahkan ada pengepul yang mengambil langsung dari sini dan dijual di Magetan, Nganjuk dan Pacitan,” ujarnya.
Ibu dua orang anak ini menambahkan rengginang miliknya pernah mendapatkan juara dua tingkat provinsi Jawa Timur, pada 2000 an. Penilaiannya selain karena higienis, rasa dan tingkat kerenyahan rengginang buatannya berhasil menyabet juara kedua.
“Kalau ada kegiatan atau pelatihan, biasanya kami juga diundang. Namun sayang perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo belum ada hingga sekarang,” terangnya.
Bahan baku pembuatan rengginang, lanjut Tini sapaan akrab Sutini, berasal dari ketan putih. Proses pembuatannya pun terbilang mudah, pertama-tama ketan dicuci bersih kemudian direndam semalaman. Kedua, setelah direndam tadi dimasak sebanyak dua kali dan dicampur bumbu. Ketiga, dijemur hingga benar-benar kering dibawah sinar matahari selama satu hari penuh. Jika saat musim hujan, maka rengginang harus dioven semalaman dan rajin dibolak-balik agar keringnya merata. Dan terakhir, rengginang siap digoreng.
“Dalam satu hari saya bisa menghabiskan satu kwintal ketan putih, dibantu tiga orang karyawan, kami membuat sendiri rengginang dengan merk Barokah,” cakapnya.
Menggoreng rengginang. 
Ketan yang digunakan merupakan campuran antara ketan lokal dan ketan impor, hal ini dikarenakan jika menggunakan ketan impor saja rasanya kurang gurih. Saat ini rengginang buatan Tini memiliki dua varian rasa, yakni rasa manis dan asin.
“Untuk satu bungkus rengginang mentah kami jual Rp7ribu per bungkus, kalau matang Rp4 ribu dan kalau per kilogram untuk mentah dijual Rp25 ribu,” tuturnya.
Setiap hari, usaha rumahan ini memproduksi rengginang. Pasalnya, pesanan paling banyak datang dari para pengepul. “Beruntung rengginang buatan saya selalu laris terjual, tidak ada yang kembali ke rumah ini lagi. Semua yang sudah dijual selalu habis. Jadi kami yakinkan rengginang kami selalu baru,” pungkasnya. 
Rengginang siap dikirim. 
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Lihat juga...