RABU 25 JANUARI 2017
MATARAM—Kasus gizi buruk yang menimpa anak di Nusa Tenggara Barat dalam satu terahir tergolong cukup tinggi, pola asuh dan asupan makanan dengan gizi tidak seimbang dinilai menjadi penyebab utama masih tingginya kasus gizi buruk di NTB.
![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi. |
“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dalam kurun waktu 2016 saja, jumlah kasus gizi buruk yang tersebar di seluruh Kabupaten Kota NTB mencapai 328 kasus” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi di Mataram, Rabu (25/1/2016).
Kabupaten Lombok Timur (Lotim) termasuk Kabupaten dengan angka kasus gizi buruk paling tinggi di NTB, mencapai 80 kasus, mengingat dari jumlah penduduk, Lotim memang termasuk Kabupaten dengan jumlah penduduk tinggi disusul Kabupaten Lombok Barat (Lobar).
Nurhandini mengatakan, tingginya kasus gizi buruk di NTB, karena adanya gerakan bersama Dinkes Kabupaten Kota, menyisir setiap Puskesmas dan rumah sakit dan memang banyak ditemukan.
“Jumlah tersebut baru yang terdeteksi, belum lagi yang terdeteksi tentu masih banyak dan itu terus kita sisir untuk segera mendapatkan penanganan medis,” terangnya.
Dari jumlah tersebut delapan dintaranya meninggal, meski demikian kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka kematian anak penderita gizi buruk cendrung menurun.
Ia mengatakan, sebagai langkah kongkrit penanganan dan pencegahan munculnya kasus gizi buruk, selain gencar melakukan pencarian di setiap puskesmas dan rumah sakit, juga dengan memaksimalkan keberadaan kader posyandu di setiap Kelurahan dan dusun.
“Melalui kader Posyandu, selain memberikan bantuan asupan makanan dan vitamin bagi anak, juga memberika pemahaman dan pengetahuan kepada ibu hamil dan yang memiliki anak balita,” ujar Nurhandini.
Lebih lanjut ia menambahkan kasus gizi buruk yang terjadi karena pola asuh biasanya, karena banyak anak – anak terutama di pedesaan yang ditinggalkan kedua orang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sehingga kurang mendapatkan perhatian.
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi