SENIN, 2 JANUARI 2017
MALANG — Selama satu minggu penuh, masyarakat di Kota Malang, khususnya para pecinta literasi, dimanjakan oleh ribuan buku dengan berbagai judul dalam gelaran ‘Pesta Malang Sejuta Buku’ yang dihelat di Taman Krida Budaya, Jalan Sukarno Hatta, Kota Malang, sejak Kamis (29/12/2016) hingga Rabu (4/1/2017).
![]() |
| Televisi digantung, simbol ajakan kepada warga untuk membaca buku. |
Dalam gelaran pesta buku yang mengambil tema ‘Ketemu Buku, Banyak Buku yang Tidak Kamu Ketahui’ tersebut, diikuti kurang lebih 200 penerbit yang terbagi dalam 37 stan pameran. “Acara ini sebenarnya adalah termasuk dalam program sejuta buku untuk Indonesia yang digagas oleh 3G Production yang berpusat di Yogyakarta,” jelas Project Manager Pesta Malang Sejuta Buku, Tamia Bastian, Senin (2/1/2017).
Menurutnya, dalam acara tersebut jenis buku yang ditawarkan lebih bervariasi, karena beberapa buku berasal dari penerbit alternatif seperti Pelangi Sastra dan Pojok Cerpen, yang buku-bukunya jarang dijumpai di toko buku. “Karena itu, kita mengusung tema ketemu buku, karena sebenarnya selain novel, sastra maupun buku pelajaran, ternyata masih banyak lagi buku bagus lainnya yang belum diketahui masyarakat,” ucapnya.
![]() |
| Sejumlah warga beragam usia antusias menyaksikan pameran buku. |
Melalui pesta buku ini, pihaknya ingin masyarakat bisa lebih banyak mengetahui variasi jenis buku yang belum pernah dibaca atau diketahui sebelumnya.
Acara tersebut juga diisi dengan acara bedah buku, pertunjukan musik dan seni serta berbagai lomba untuk anak-anak seperti lomba menggambar dan mewarnai, membaca penggalan cerita pendek dan lomba menulis puisi. “Selama satu minggu penyelenggaraan pesta buku, kami menargetkan 1.500-2.000 pengunjung yang datang ke acara ini setiap harinya,” ujar Tamia.
Sementara itu dari pantauan Cendana News, ada pemandangan yang menarik sebelum memasuki area pameran. Di sebelah kiri pintu masuk pameran ada puluhan televisi yang digantung dan diberi tanda silang berwarna merah. Menurut Tamia, televisi-televisi tersebut sengaja digantung sebagai simbol untuk mengajak masyarakat untuk mematikan televisi maupun gadget dan mulai meluangkan waktu untuk membaca.
“Televisi yang digantung itu sebagai simbol, jika masyarakat memiliki waktu, sebaiknya digunakan untuk membaca daripada menonton televisi. Ketika banyak orang kini mulai berpindah ke media online dan media-media lainnya, kami ingin bisa lebih mengenalkan banyak buku kepada masyarakat agar buku tetap menjadi media yang pantas untuk dinikmati dan dibaca,” pungkasnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : Koko Triarko / Foto : Agus Nurchaliq
