Napak Tilas Benteng Roterdam yang Bernilai Sejarah Tinggi

KAMIS 12 JANUARI 2017
MAKASSAR— Hari masih pagi, di tengah hujan gerimis, saya melajukan motor matic  menuju ke lokasi Benteng Rotterdam yang berada di Jalan Ujung Pandang  1, Kelurahan Baru. Meski ini masih termasuk hari kerja tapi Benteng Rotterdam tak pernah sepi dari wisatawan yang ingin melihat keindahan Benteng Rotterdam.  
Salah satu bagian dari Benteng Rotterdam.
Buktinya dalam kunjungan ini, saya sempat bertemu sekitar 30 wisatawan asal  Malaysia sebagai teman untuk menikmati kemegahan bangunan tua ini. Rata-rata mereka berusia 50 tahunan. Mereka tampak antusias di bawah pengarahan seorang tour guide. “Benteng dengan arsitektur seperti ini tidak kami temui di Malaysia,” ujar salah seorang di antara mereka. 
Benteng Rotterdam yang memiliki luas sekitar 2945,55 M2 ini telah berdiri pada 1545 benteng ini dibangun oleh Raja Gowa ke 9. Bangunan tua ini sampai sekarang masih berdiri dengan kokoh yang dikeliling oleh tembok-tembok tebal. Bangunan yang di dominasi warna cream coklat ini terlihat megah, walaupun usianya ratusan tahun. Bahkan tampak ada cat yang terkelupas. Arsitektur bangunan yang bergaya eksentrik, terlihat seperti penyu ini menjadi daya tarik wisata di Kota Daeng. 
Untuk masuk benteng ini pengunjung membayar sukarela dan tidak ada harga khusus.  
Kami masuk dari gerbang setinggi kira-kira yang ada di bagian barat dari benteng.  Begitu masuk kami melihat taman yang luas dengan rumput hijau asri.  Di tengah terdapat sebuah gedung yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari gerbang.  Rata-rata gedung berlantai dua mengelilingi taman.  Orang Makassar menyebutnya Gedung A berhubungan dengan sejarah Sultan Hassanudin. Di gedung ini terdapat naskah Perjanjian Bonggaya dengan Belanda. 
Bagian dari Museum La Galigo.
Namun bagian penting dari benteng itu adalah Museum La Galigo yang terletak di sisi Selatan.  Di dalam museum ini terdapat peninggalan barang pusaka tersusun  rapi. Barang-barang memuat tradisi, adat istiadat suku-suku serta sejarah-sejarah yang ada di Sulawesi Selatan. Naskah La Galigo ialah karya sastra teks Bugis kuno berbentuk epik sekitar abad ke-13 yang saat ini menjadi kitab sakral Bugis. Dari naskah La Galigo ini bisa diketahui kondisi masa-masa awal masuknya Islam di Sulawesi. 
Saya bertemu Pak Jamal, yang mengausai sejarah dan museum ini. “Pemerintah sudah memberi perhatian penuh terhadap bangunan ini dan tanpa mengubah apapun sehingga keaslian bangunannya masih terpelihara sampai sekarang. Dan untuk nilai sejarah sendiri bangunan ini merupakan lambang ke banggan bagi masyarakat kota Makassar karena ini adalah perjuangan kota Makassar” tandasnya saat di temui di ruangannya.
Selain menjadi tempat wisata sekedar melepas lelah benteng ini juga menjadi tempat belajar bagi para pengujung dapat mengetahui sejarah-sejarah yang ada dikota Makassar di harapkan nantinya benteng ini akan menjadi destinasi wisata yang dapat dikenal di seluruh dunia.  
Pak Jamal, sjerawan dan staf musuem. 
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...