Museum Bikon Blewut, Serpihan Sejarah Masa Lampau Tersimpan di Ledalero

MINGGU, 8 JANUARI 2017

MAUMERE — Museum Biko Blewut mungkin belum setenar Museum Indonesia di Ibu Kota Negara ini, Jakarta. Namun Bikon Blewut yang terletak di dalam kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero Desa Nita kabupaten Sikka ini juga dikenal di mancanegara.
Fosil  gajah purba  Stegodon
Hampir setiap saat rombongan wisatawan dari luar negeri yang mampir ke Flores selalu menyempatkan diri menyambangi tempat  untuk mengumpulkan berbagai barang peninggalan sejarah masa lampau ini.
Endy Padji, penjaga museum ini saat ditemui Cendana News di lokasi museum Rabu (4/1/2017) mengatakan, Museum ini didirikan tahun 1926 di Seminari Menengah Todabelu, Mataloko, Kabupaten Ngada, oleh Pastor Verhoeven SVD. Tahun 1937, saat didirikan Seminari Tinggi Ledalero, museum pun dipindah ke tempat ini.
Endy menjelaskan, museum Bikon Blewut didirikan Pater Dr. Theodor Verhoeven SVD, ahli etnolinguistik tamatan Universitas Utrecht Nederland, karena sebagian besar koleksi–koleksi  utama museum ini adalah hasil  penggalian dan  penemuannya  yang spektakuler.
“Dulu bangunannya masih lama dan berada di samping bangunan sekarang namun setelah ada bantuan pemerintah, sebagian koleksi mulai dipindahkan ke bangunan baru ini, “ ujarnya.
Endy Padji penjaga museum Bikon Blewut
Bangunan museum ini terlihat unik dimana bagian pintu masuk ke museum dibuat berbentuk bulat. Setelah melewati pintu masuk, di kedua sisi depan pintu utama terdapat dua buah ambang pintu bekas peninggalan Istana Raja Nita.
Saat menjabat Menteri Pariwisata, Mari Elka Pangestu mengunjungi museum ini dan setelah melihat kondisi bangunannya dirinya berjanji akan membantu dana pembangunannya.
Bangunan baru pun dibangun oleh dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Sikka tahun 2012, Meski demikian bangunan dengan panjang 20 dan lebar 10 meter ini terasa sempit meski bagian depannya berlantai dua.
“Masih ada koleksi lainnya seperti alat tenun berada di bangunan lama sebab bangunan baru ini tempatnya tidak cukup untuk menampung semua koleksi,” sebut Endy.
Kata Bikon sendiri artinya lampau, sedangkan Blewut artinya sisa peninggalan masa lampau. Nama Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam versi Krowe-Sikka yang berbunyi : “Saing Gun Saing Nulun, Saing Bikon Saing Blewut, Saing Watu Wu’an Nurak, Saing Tana Puhun Kleruk, De’ot  Reta Wulan Wutu, Kela Bekong Nian Tana”.
Syair ini artinya, Sejak zaman dahulu, sejak zaman masih purba, ketika bumi masih rapuh, ketika tanah masih bagaikan buah yang masih muda, Tuhan di angkasa menciptakan langit dan bumi, matahari  dan  bulan.
Dikatakan Endy, museum ini menyimpan berbagai koleksi dari berbagai negara di dunia yang dibawa oleh para pastor yang bertugas disana atau para frater yang menjalani pendidikan di luar negeri.
“Banyak penemuan didapat berkat penggalian oleh tim yang dipimpin Pater Verhoeven di beberapa gua di Flores dan Lembata termasuk fosil manusia purba Flores,” terangnya.
Fosil manusia purba Flores
Museum unik ini ungkap  Endy memiliki koleksi mulai dari alat-alat  kebudayaan pra sejarah  zaman Palaeolithicum (batu tua), zaman Mesolithicum (batu tengah), zaman Neolithicum (batu muda), zaman Perunggu, zaman Batu Mulia, dan fossil – fossil  Fauna dan Flora  hingga koleksi -koleksi  seni  budaya  masyarakat Flores dan NTT pada era kontemporer.
Museum Bikon Blewut pun terkenal berkat penemuan fosil manusia purba Flores di Liang Bua  yang hidup 18 ribu tahun lalu serta fosil sejenis gajah purba Stegodon pada lapisan  Prehistoris di daratan Ola Bula dan Mengeruda Ngada, yang diberi nama oleh Dr.P.A.Hooyer sebagai Stegodon Trigonocephalus Florensis.
Agar tidak rusak benda koleksi diletakan di dalam kaca dan ditaburi  kapur barus berupa serbuk. Bila sudah berdebu kaca lemari baru dibuka dan dibersihkan sehingga bisa membuat benda purbakala ini terlihat awet.
Dalam buku petunjuk di museum disebutkan, bentuk Stegodon Flores  ini lebih kecil dibandingkan dengan yang hidup di Jawa, tetapi memiliki puncak geraham yang lebih tinggi. Species ini dipekirakan  hidup di Flores pada  zaman  pleistosen tengah  dan  akhir  (400.000  sampai 10.000 tahun silam).
“Penggalian di Liang Bua oleh tim dari Indonesia dan Australia dilakukan berdasarkan tulisan yang ada di Ledalero,” paparnya.
Sebenarnya penemuan di Liang Bua oleh tim tersebut tahun 2003 bukan penemuan baru sebab penggalian yang dilakukan oleh tim dari Pater Verhoeven sudah ditemukan fosil manusia Flores dan fosil yang utuh dibawa ke Belanda unuk diteliti dan telah dipublikasikan ke mancanegara.
“Disini ada satu koleksi benda perunggu berupa keris dari jaman perunggu yang ditemukan di Ngada dan satu-satunya ada di Indonesia. Museum nasional pun ingin membelinya tetapi tidak diperbolehkan,” paparnya.
Dalam setahun papar Endy diperkirakan museum ini dikunjungi seribu sampai dua ribu orang baik dari dalam dan luar negeri dimana tercacat pengunjung mencanegara berasal dari hampir 25 negara.
“Kalau masyarakat biasa hampir tidak pernah berkunjung, tapi kalau anak sekolah banyak yang datang sebab sudah ada himbauan dari dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Sikka,” tuturnya.
Himbauan dari dinas ini beber pria asli Nita ini sudah berlangsung sekitar 5 tahun sehingga kalau ada pelajaran sejarah dan budaya hampir semua murid sekolah mendatangi museum ini. Juga ada mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.
Wisatawan dari luar negeri kata Endy lebih banyak sebab selalu dibawa biro perjalanan wisata, sementara dari luar NTT biasanya berasal dari tamu-tamu dinas pemerintah yang sedang berkunjung ke Flores.
“Hampir tiap hari ada yang berkunjung dan kalau peneliti biasanya bisa berhari-hari sebab mereka menulis disertasinya tentang benda-benda yang ada disini dengan  literatur yang ada di perpustakaan Ledalero,” terangnya.
Untuk masuk ke museum ini pengunjung hanya membayar biaya sebesar 5 ribu rupiah per orang untuk peneliti, warga asing 10 ribu rupiah per orang sedangkan warga lokal, 2 ribu rupiah per orang dan pelajar hanya dikenakan biaya seribu rupiah per orang.
Tampak depan museum Bikon Blewut di Ledalero
Dana menjadi salah satu kendala terbesar dalam pengelolaan museum ini. Meski ada dana dari Dirjen Permuseuman pusat tapi kata Endy, setiap tahun harus diajukan proposal bantuan dana.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...