Membangun Budaya Literasi Lewat Musik Balada

SENIN 23 JANUARI 2017
BANDUNG—Saat ini pemerintah gencar mencanangkan gerakan gemar membaca, tak terkecuali di Kota Bandung. Jauh sebelum itu, musisi balada asal Purwakarta, Jawa Barat, Ferry Curtis sudah berjuang mendongkrak budaya literasi di Negeri ini.
Aksi panggung Ferry Curtis. 
Sejak 2004 silam, dia kerap mendatangi sejumlah daerah di Indonesia untuk melakukan sebuah pertunjukan tarik suara. Tak sekadar menghibur, namun AlumnusJurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (kini ISBI) Bandung 1994 ini memiliki misi menggairahkan minat baca. 
Tengok saja di tembang berjudul “Ke Pustaka”, “Cinta Untuk Semua Guru” dan “Mari Membaca” yang dia ciptakan. Ketiga lagunya itu memiliki tema mengajak mayarakat gemar membaca.
“Kita harus menyadari Indonesia itu minat membacanya cukup rendah, sementara kemajuan bangsa itu diawali oleh membaca,” ujar Ferri.
Ferry tambahkan, musisi balada di setiap negara tentu saja selalu melibatkan kebudayaan dalam setiap karyanya. Sementara budaya itu cukup beragam dari mulai tradisional hingga urban. Dia menilai, sudah sepatutnya musisi balada peka terhadap polusi sosial yang ada di sekitar seiring kemajuan zaman. 
“Untuk saya seorang musisi enggak harus ada yang menyuruh untuk membuat karya. Misalkan enggak harus dibiayai sama perpustakaan atau dinas yang berkepentingan baru membuat karya,” katanya.
Ferry yang sudah menapaki dunia hiburan sejak 1990-an ini pernah terpilih menjadi Duta Anti Narkoba Jabar 2010. Teranyar dia juga didapuk sebagai Duta sekaligus penulis Mars Pendidikan Inklusi Kota Bandung 2016.
Menurut dia, seorang penulis dan penyanyi balada tak melulu hanya membuat karya musik dengan dibalut lirik bergaya sastra yang ciamik saja.
“Musisi balada itu harus juga mendatangi orang-orang, bukan malah hanya didatangi,” tutur pria kelahiran 20 Oktober 1970 ini.
Selain soal literasi dan pendidikan, Ferry memiliki semangat mengajak publik memperkuat jiwa kebangsaan. Seperti pada lagu yang berjudul “Anak Kecil Kehilangan Bendera” dan “Suratku Kepada Sang Fajar”, dia mengajak pendengar untuk meningkatkan rasa nasionalisme.
“Banyak perusahaan akhirnya memanggil kita untuk mengisi kelas agar menanamkan rasa nasionaliseme. Kan di dunia kerja itu tidak asik kalau di dalamnya tidak ada seninya,” paparnya.
Tidak jarang juga dia datang ke desa-desa untuk menyebarkan budaya literasi dan nilai kebangsaan lewat lagu balada. Karena dia menilai, desa merupakan akar yang harus disasar lebih dulu.
“Sebenarnya sama enaknya mau manggung di panggung besar sama bernyanyi di depan masyarakat secara langsung. Tapi kalau di depan masyarakat secara langsung intraksinya lebih kena,” katanya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah
Lihat juga...