Melacak Jejak Kota Tua Depok (2) Legenda Pak Panus Jadi Jembatan

RABU 11 JANUARI 2017

DEPOK—-Menemukan bangunan bersejarah di kota kecil seperti Depok tidaklah semudah kota besar seperti Jakarta dan Semarang di mana bangunan bersejarahnyalebih mudah dikenali dan mendapatkan perhatian lebih besar.  Sebuah kota yang sebagian besar warganya bagaikan menumpang tidur (dormitory), karena mereka banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di Ibukota Jakarta bahkan rekreasi,mencari hiburan juga kerap ke luar Depok.  Mereka melewati bangunan bersejarah sehari-hari tanpa memahami nilai bangunan itu. Bahkan kerap bangunan itu terbengkalai.

Jembatan Panus pada 1917  di atas Sungai Ciliwung.

Bila Anda menelusuri Jalan Tole Iskandar Anda akan melihat sebuah jembatan yang melintasi Sungai Ciliwung.  Jembatan itu berada di samping jembatan lainnya yang lebih banyak digunakan warga untuk melintas.  Selasa(10/1) lalu Cendana News menelusuri  turun ke kolong jembatan melalui gorong-gorong air pembuangan. Ketika itu kondisi air cukup deras karena hujan yang mengguyur kota Bogor menambah debet air di Sungai Ciliwung.  Keadaan di kolong jembatan panus tidak kalah memprihatinkan, banyak sampah yang tersangkut di pilar pilar jembatan. 

Jembatan ini dibangun sebagai penghubung utama bagi warga yang ingin menuju Bogor lewat jalan raya Bogor. Meski sudah berusia seratus tahun, jembatan ini masih terlihat kokoh dengan pilar-pilar yang tertanam ke dasar sungai Ciliwung.  Pada bagian bawah tiang penyangga dibangun dengan ratusan batu kali yang disusun sedemikian rupa membentuk satu pondasi kuat untuk menopang seluruh badan jembatan. Ruas jembatan ini cukup untuk dilalui dua mobil secara bergantian. Di kedua sisi jembatan ini dipagari pagar beton setinggi kurang lebih satu meter dengan ketebalan lebih kurang enam puluh senti meter.
Menurut buku Inventarisasi dan Dokumentasi Cagar Budaya Kota Depok,  jembatan ini dibangun pada 1917 oleh arsitek Andre Laurens. Jembatan ini memiliki lebar lebih kurang empat meter dan panjang enam puluh lima meter. Sebutan Panus berasal dari nama seorang warga bernama Stevanus Leander yang tinggal di samping jembatan tersebut. Karena lambat laun orang sulit menlafalkan Stevanus maka menyebutkan nya jembatan dekat rumah “Pak Panus” dan akhirnya dikenal dengan nama jembatan Panus.
Kondisi jembatan yang memprihatinkan, ada coretan coretan cat semprot dari tangan-tangan jahil. , Namun sudah ada upaya dari pemerintah untuk melakukan pengecatan ulang pada bagian tersebut. Keadaan di sisi barat jembatan juga tidak kalah memprihatinkan. Tembok jembatan sudah retak dan pecah, tapi tampak sudah ada dilakukan perbaikan.
Menurut Ketua Depok Heritage Community Ratu Farah Diba  yang ditemui Cendana News secara terpisah jembatan ini ketika dibangun untuk menyeberangi sungai Ciliwung menuju Depok dari arah Bogor, begitu juga sebaliknya. Pihak militer pun menggunakan jembatan ini sebagai sarana mobilitas pasukan. 
Sekitar  1990 an dibangun jembatan baru di sebelah selatan Jembatan Panus. Hal ini merupakan satu kebijakan pemerintah untuk mengurangi beban di Jembatan Panus. Ratu juga menganggap perlu adanya peran serta masyarakat dalam menjaga dan memelihara jembatan yang menjadi penghubung pertama antara Depok- dengan Jalan Raya Jakarta-Bogor. Jembatan  bukan saja merupakan warisan sejarah biasa, tetapi juga bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Depok, bila bisa dipelihara dengan baik.
“Pernah ada kerja sama masyarakat, pelajar, komunitas dan YLCC yaitu pengecatan jembatan, membersihkan jembatan dari tumbuhan liar yang tumbuh di dinding jembatan. Tentu hal itu belum cukup untuk melestarikan benda cagar budaya itu. Tetapi pertama-tama harapan saya masyarakat agar tidak membuang sampah di sungai Ciliwung, mengingat kondisi pilar-pilar jembatan yang sudah mulai terkikis aliran Ciliwung dan gerusan sampah yang nyangkut di pilar-pilar,” papar Ratu (Bersambung)
Bagian tiang Jembatan Panus.: Maish terlihat kokoh. 
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho
Lihat juga...